Senin, 20 Juli 2009

“Mitologi dan Saintologi Eunice fucata (Cacing nyale) Dalam Pengembangan Objek Wisata Bagi Pembangunan Lombok Tengah”

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia adalah Negara Kepulauan terbesar di Dunia, memiliki beribu-ribu pulau baik yang berpenghuni maupun yang tidak berpenghuni. Setiap wilayah di Indonesia tentunya masing-masing memiliki daya tarik tersendiri baik dari kekayaan alam, letak strategis, pariwisata dan lain sebagainya. Daerah pariwisata adalah hal yang paling diminati oleh para turis atau pelancong yang datang ke Indonesia. Indonesia dikenal memiliki beragam wilayah pariwisata yang indah dan eksotik, sebut saja yang paling familiar ditelinga para wisatawan adalah Pulau Bali. Pulau Bali merupakan salah satu pulau cantik di Indonesia, dikatakan demikian karena Bali memiliki fenomena alam yang sungguh menarik dan sangat indah. Pantai-pantainya selalu ramai dikunjungi pengunjung baik domestik maupun luar negeri. Setiap tahunnya, pengunjung yang datang ke Bali terus bertambah, tak ayal hal ini membuat perekonomian atau Pendapatan Anggaran Daerah (PAD) Bali semakin meningkat. Hal ini membuat daerah-daerah lain di Indonesia iri dan berlomba-lomba membangun daerah-daerahnya dengan tujuan daerahnya dapat dikenal dan menjadi daerah kunjungan pariwisata yang menarik dan sangat diminati pengunjung.
Sebenarnya Indonesia memiliki banyak sekali daerah-daerah pariwisata yang indah dan tidak kalah menariknya dengan di Bali, hanya saja Bali mendapat perhatian yang lebih dari pemerintah dan eksplorasi yang baik sehingga mampu memikat para pengunjung untuk datang ke Bali, selain itu juga didukung oleh sarana-prasarana yang memadai seperti Bandara Internasional yang membuat Bali semakin dikenal pengunjung hingga di luar negeri. Namun seandainya kita melirik sedikit ke arah Timur, maka kita akan mendapatkan sebuah pulau cantik, menarik dan alami yakni Pulau Lombok. Pulau Lombok belum begitu dikenal dimata para wisatawan, karena kekurangan sarana yang mendukung untuk mempromosikan daerah ini, padahal pulau ini memiliki kualitas pariwisata yang sangat baik, pantai-pantainya masih sangat orisinil dan bersih dari pencemaran. Biota-biota laut dan keseimbangan ekosistemnya juga masih cukup stabil, udara sejuk, sentra perdagangan yang cukup strategis dan masih sangat tradisional dan masih banyak lagi kelebihan-kelebihan pulau Lombok dan tidak terdapat di Bali. Melihat kondisi ini, sehingga ada sebutan yang menyebutkan bahwa di Bali juga ada Lombok, namun di Lombok tidak ada Bali. Belakangan ini, Lombok sudah mulai menjadi perhatian pemerintah dalam upaya pengembangan daerah tersebut terutama di bidang pariwisata. Pembangunan pun mulai gencar dilaksanakan, dan yang sedang menjadi proyek utama saat ini adalah pembangunan Bandara Internasional Lombok (BIL) di kabupaten Lombok Tengah. Pembangunan BIL dilakukan atas kerjasama Pemerintah Provinsi NTB, Pemda Lombok Tengah, Investor-investor lokal maupun asing, dan Pemerintah Republik Indonesia sendiri. Luas BIL mencapai 535 hektar atau dua kali lebih luas daripada Bandara Internasional Ngurah Rai di Bali. Biaya pembangunannya sebesar Rp 665 miliar. Ditargetkan mulai beroperasi awal 2010. Ini merupakan modal utama bagi pembangunan dan pengembangan pulau Lombok dan NTB pada umumnya. Dengan adanya Bandara Internasional tersebut maka upaya pembangunan dan eksplorasi daerah menjadi mudah, sehingga pulau Lombok dapat lebih dikenal dan dapat bersaing menjadi daerah tujuan wisata yang sangat diminati, serta untuk menambah pendapatan daerah dan devisa Negara demi pembangunan bangsa Indonesia kedepan.
Pulau Lombok terbagi menjadi empat kabupaten yaitu Lombok Barat, Kotamadya Mataram, Lombok Tengah dan Lombok Timur yang masing-masing memiliki daerah pariwisata pamungkas yang cukup menarik dan banyak dikunjungi wisatawan. Pada makalah ini, saya akan mencoba untuk fokus membahas tentang daerah Lombok Tengah karena hal ini menyangkut tentang tema yang saya ajukan.
Lombok Tengah adalah salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Barat yang telah cukup lama menjadi daerah tujuan wisata. Berjarak hanya 30 kilometer dari Mataram, Lombok Tengah merupakan tempat obyek-obyek wisata penting di pulau Lombok.
Daya tarik utamanya yaitu keindahan pantai-pantai berpasir putih, sebagian berbulir sangat khas seperti butiran merica, yang menghadap langsung ke Samudra Hindia dengan ombak yang juga khas yang telah menarik banyak peselancar dan penyelam, juga pecinta keindahan alam dari seluruh dunia untuk datang berkunjung. Pengunjung juga masih dapat menemukan tradisi kehidupan masyarakat suku Sasak tempo dulu di dusun-dusun tradisional yang masih lestari.
Kerajinan tangan seperti songket, tenun ikat dan gerabah juga masih digeluti di banyak tempat untuk menjaga tradisi sekaligus menjadi profesi. Sementara kerajinan dari bahan rotan dan ketak telah merambah pasar global.
Lombok Tengah memiliki daerah pariwisata yang cukup terkenal yaitu Pantai Kuta. Mendengar nama Pantai Kuta (baca: Kute), pasti yang terekam di benak kita pantai tersohor yang (hanya) ada di Pulau Dewata Bali. Padahal di Lombok pun ada pantai indah yang juga bernama Kuta. Kendati sama-sama bernama Kuta, jelas pesona keduanya berbeda. Bila Pantai Kuta di Bali berpasir sebagaimana umumnya pantai lainnya, lembut dan putih. Lainnya halnya dengan pasir Pantai Kuta Lombok. Butiran pasirnya seperti merica berwarna putih yang menghampar di sepanjang bentangan pantainya. Konon pasir berbentuk merica itu berasal dari butiran karang tempat nyale atau cacing laut bersarang. Nyale-nyale yang jumlah miliaran itu membuat sarang di karang-karang putih dengan cara melubangi karang. Sisa galian nyale itu berbentuk butiran-butiran pasir yang kemudian dihanyutkan ombak ke pantai.
Lantaran berbentuk seperti butiran-butiran seperti merica, banyak warga dan pengunjung pantai ini menganggap lebih nyaman saat diinjak tanpa alas kaki dan bermanfaat memperlancar sirkulasi darah. Keistimewaan pantai ini (lagi), setiap setahun sekali digelar Festival Bau Nyale atau mencari nyale. Dan sekali lagi hanya ada di Kuta Lombok bukan Bali.
Bedanya lagi, kalau di Kuta Bali kondisinya sangat ramai dengan wisatawan sehingga agak sulit mendapatkan suasana yang lebih privacy, tenang, dan asri. Berbeda dengan Kute Lombok, suasananya lebih tenang dengan suguhan alam yang jauh lebih memikat. Pantainya dilataribelakangi perbukitan dan bukit karang yang menghijau, airnya bening dan aman untuk direnangi. Pengunjungnya masih sepi. Yang ada hanyalah sejumlah anak, penjual cendera mata yang "gigih" menawarkan dagangannya.
Pantai Kuta Lombok memang belum setenar Kuta Bali bahkan Pantai Senggigi di Lombok Barat. Namun dengan segala perbedaan dan keistimewaannya, pantai ini bakal menjaring wisnus dan wisman lebih banyak, kelak. Untuk menjangkau pantai ini dari Senggigi memakan waktu sekitar 2.5 jam, melalui Kota Mataram. Tapi Bila nanti BIL sudah beroperasi waktu tempuhnya jelas lebih singkat.
Sekitar 1,5 Km dari Pantai Kuta ada Hotel Novotel Coralia Lombok, hotel berbintang satu-satunya yang terdekat dengan Pantai Kuta. Pengunjung hotel ini kerap berwater sport atau sekadar berjemur dipantainya yang eksotis. Di dekat pantainya terdapat beberpa warung makan sederhana milik penduduk setempat yang juga menjyediakan air kelapa segar. Diprediksi sejumlah hotel baru dan rumah makan akan tumbuh bila BIL sudah benar beroperasi.
Melihat fenomena tentang cacing nyale merupakan hal yang cukup menarik untuk dibicarakan, dimana kita ketahui bahwa jenis biota laut ini hanya banyak terdapat di Semenanjung Pantai Selatan di Lombok Tengah, dan inilah yang menjadi ciri khas Pulau Lombok sehingga banyak dikenal orang. Namun, apakah yang menyebabkan cacing ini hanya banyak kita dapati di Lombok saja? Apa kelebihan pantai Lombok dengan pantai yang lain sehingga membuat cacing tersebut sangat cocok dan dapat berkembangbiak baik hanya di daerah itu?. Hal inilah yang menjadi topik utama pembahasan saya dalam makalah ini. Selain itu juga saya akan mencoba untuk mengungkap mitologi masyarakat tentang cacing nyale, dan deskripsi sains yang berhubungan dengan masalah tersebut. Serta sebagai sarana untuk promosi daerah Lombok Tengah agar lebih dikenal oleh masyarakat sehingga menjadi daerah tujuan wisata yang diminati. Akankah cerita tersebut memang benar adanya dan tidak hanya sekedar mitos belaka? Apa dampaknya bagi perkembangan wisata di lombok khususnya? Semua pertanyaan inilah yang melatar belakangi saya untuk melakukan telaah ilmiah dan meniliti lebih jauh tentang semua permasalahan tersebut.

B. Rumusan Masalah
• Bagaimana mitologi masyarakat tentang keberadaan cacing nyale yang banyak ditemukan di daerah pantai selatan Lombok Tengah??
• Bagaimana keadaan ekologi pantai selatan Lombok Tengah yang mendukung keberlangsungan hidup cacing nyale??
• Apa dampak keberadaan cacing nyale bagi pembangunan dan perkembangan kepariwisataan di lombok tengah dan pulau lombok pada umumnya yang mencakup dampak sosial-budaya, politik, ekologi dan ekonomi. ??
• Bagaimana langkah dan program pemerintah kabupaten Lombok Tengah dalam membangun kepariwisataan di Lombok Tengah dan memberikan dampak positif bagi pembangunan Lombok Tengah. ??

C. Tujuan Penelitian
• Mengupas mitologi masyarakat tentang keberadaan cacing nyale sebagai jelmaan Putri Mandalika, serta mencari perbandingan dari deskripsi ilmiahnya.
• Mengetahui keadaan ekologi pantai selatan lombok tengah yanng mendukung keberlangsungan hidup cacing nyale tersebut.
• Mengetahui dampak apa saja yang timbul dengan keberadaan cacing nyale di daerah pantai selatan lombok tengah bagi pembangunan pariwisata Lombok tengah.
• Mengetahui peran pemerintah setempat dalam rencana pembangunan terutama untuk memajukan kepariwisataan yang ada di Lombok Tengah.
• Sebagai sarana promosi daerah Lombok Tengah sebagai daerah tujuan wisata yang strategis dan menarik.
• Memenuhi tugas mata kuliah AMDAL.

D. Manfaat
• Memberikan wawasan kepada pembaca/audiens tentang kepariwisataan di Indonesia dan beragam budayanya.
• Memberikan pengetahuan tentang salah satu jenis hewan unik dan langka yang banyak terdapat di pantai selatan Lombok Tengah.
• Mengetahui berbagai rencana pengembangan pembangunan pada sektor kepariwisataan yang ada di Pulau Lombok.
• Sebagai sarana perhatian pemerintah yang dapat dijadikan rekomendasi bagi pembangunan kepariwisataan Lombok Tengah.
• Sumber informasi yang baik bagi para investor untuk penanaman modal yang menjanjikan di bidang pariwisata.

E. Metodologi Penelitian
a. Tempat dan Waktu Observasi
Observasi dilakukan di daerah Lombok Tengah NTB dan di berbagai tempat wisata terkenal di daerah Lombok. Observasi ini dilekukan pada tanggal 20 Mei 2009.

b. Metode
Observasi dilakukan menggunakan metode melalui browsing internet sebagai landasan telaah yang mendukung penelitian ini dan observasi langsung di lapangan melalui perantara seseorang di Lombok dengan melakukan wawancara langsung terhadap penduduk sekitar dan dialog dengan para ahli di daerah tersebut.











BAB II
Landasan Teori dan Penelitian yang Relevan
Sejarah Pulau Lombok
Pada awal abad ke-17, Kerajaan Karangasem dari Bali berhasil menanamkan pengaruhnya di wilayah barat Pulau Lombok dan pada tahun 1750 seluruh wilayah PulauLombok berhasil dikuasai kerajaan Hindu dari Bali itu. Dengan dikuasainya Pulau Lombok oleh Bali, maka orang-orang Bali berdatangan ke Lombok sekaligus membawa serta kebudayaan mereka ke Lombok. Namun pertentangan di antara keluarga kerajaan menyebabkan kekuasaan di Lombok terpecah menjadi empat kerajaan kecil. Pada tahun 1838, Kerajaan Mataram dari Jawa berhasil menguasai Lombok dan juga kemudian menaklukkan Kerajaan Karangasem di Bali. Mataram kemudian menyatukan Lombok dengan Karangasem di bawah kekuasaannya.
Di Lombok barat, Suku Sasak yang berada di wilayah itu dapat menerima kedatangan orang-orang Bali di wilayahnya dan kehidupan di antara kedua suku bangsa itu berjalan harmonis. Perkawinan antara orang Sasak dan Bali pada masa itu menjadi hal yang lumrah. Orang Sasak juga belajar dari orang Bali mengenai metode pengairan pertanian Subak.
Namun, keadaan tidak sama di Lombok Timur di mana kehadiran orang Bali ditentang oleh orang Sasak. Keadaan ini menimbulkan dua kali perlawanan orang Sasak terhadap kekuasaan orang Bali yang ada di wilayah itu, yaitu pada tahun 1855 dan 1871. Pada tahun 1891, para pemimpin suku Sasak di Lombok Timur minta bantuan kepada Belanda dan mengundang Belanda untuk menjadi penguasa di Lombok, menggantikan Bali.
Pada Juni 1894, Gubernur Jenderal van der Wijk membuat perjanjian dengan suku Sasak. Dengan alasan untuk membebaskan orang Sasak dari penjajahan Bali, van der Wijk kemudian mengirim pasukan dalam jumlah besar ke Lombok. Dan, pada tahun 1894 Belanda berhasil mengalahkan kekuasaan Bali di Lombok.
Pada masa kekuasaan Belanda di Lombok, khususnya pada sekitar tahun 1940-an, petani dipaksa untuk menjual lebih banyak padi dan beras sebagai bentuk pembayaran pajak oleh petani kepada penguasa Belanda. Hal ini menyebabkan jumlah beras bagi masyarakat menjadi berkurang sehingga menimbulkan kelaparan yang terjadi pada tahun 1938, 1940, dan 1949. Lombok merupakan kawasan yang rawan kelaparan, bahkan pada masa setelah kemerdekaan, yaitu pada tahun 1966 dan 1973.
Mataram dan Cakranegara
Mataram adalah ibu kota propinsi,yang dulunya bergabung dengan Ampenan, Pelabuhan dan Cakranegara yang kemudian berubah menjadi kota besar.

Pada awal abad ke-18, Mataram adalah kediaman putra mahkota Kerajaan Karang asem,yang berada di bagian selatan Bali.
Raja sendiri berkedudukan di Cakranegara. Kekuasaan kerajaan tidak berlangsung lama, tetapi banyak peninggalan Pura tua dan Taman sari masih ada. Pura hindu terbesar di Lombok adalah Pura Meru di Cakranegara.

Merupakan persembahan ke Tritunggal(the hindu trinity), dewa Brahma dan dewa wisnu, dibangun pada tahun 1720 oleh Anak Agung Made Karang, yang mempunyai tiga taman, tiga pagoda seperti tempat pemujaan yang berdiri berjajar dari utara ke selatan dibagian taman paling dalam. Pura yang berada di utara dipersembahkan untuk dewa wisnu dan mempunyai atap sembilan tingkat. Dibagian tengah diperuntukan untuk dewa siwa mempunyai atap 11 tingkat dan dibagian selatan diperuntukan untuk dewa Brahma dengan atap 7 tingkat. tidak jauh dari pura ada Taman Mayura, yang merupakan bagian taman dari kerajaan, mempunyai danau buatan yang terletak ditengah taman.dari sisi danau dibangun jalan setapak yang menuju ke pendopo yang berada di tengah danau, dahulu pendopo ini dipakai untuk pertemuan sehari-hari, acara keagamaan dan tempat pengadilan.
Narmada
Taman narmada, berada 11 km arah timur kota Mataram, dibangun pada tahun 1727 oleh Raja Karang Asem Anak Agung Gede Ngurah, merupakan tempat pemujaan dewa shiwa sekaligus taman peristirahatan. Merupakan Kolam yang sangat besar sebagai perwujudan segara Anak,kawah kepundan di gunung Rinjani yang digunakan untuk melempar persembahan.Karena raja baeranjak tua untuk berziarah ke puncak rinjani 3,726 meter, dia membuat Narmada merupakan perwujudan dari Gunung and danau. Tidak jauh dari danau merupakan tempat pemujaan dan sumber mata air yang dipercaya bisa memberikan awet muda pada para peziarah.

Pura Lingsar.
Ini mungkin merupakan satu-satunya tempat suci Hindu di dunia dimana umat hindu dan muslim berdo'a bersama. sekitar 7 km sebelah barat Narmada, dibangun pada tahun 1714 dan dibangun kembali tahun 1878 sebagai simbol keharmonisan hubungan antara umat hindu bali dengan muslim sasak, terutama penganut Islam wektu telu yang unik di lombok. Pura hindu di bangun dibagian tanah yang paling tinggi,dibelakang bagian islam di satu komplek. di taman bagian bawah pada waktu purnama para peziarah melakukan pesta perang-perangan saling melempar ketupat antara hindu dan islam.

Pura Agung Gunung Sari
Pura yang megah ini berada di atas bukit di gunung Sari, sekitar 4 km dari Mataram, merupakan saksi perang puputan pada 22 november 1894, antara raja hindu terakhir di lombok, Anak Agung Nengah dan pengikutnya, dengan tentara Belanda dibawah komando jendral Van der Vetter.

Sukarare
Adalah desa penenun berada sebelah selatan Cakranegara. Lombok terkenal dengan tenun songketnya. Mereka sudah membuat tenun songket dengan alat tradisional dari dahulu kala.
Sengkol, pujut dan Rambitan
Waktu sepertinya berhenti berputar di ketiga desa ini di selatan lombok dalam perjalanan dari ibukota Mataram ke pantai Kuta. Semua rumah dan lumbung padi dibangun dengan gaya tradisional dimana kehidupannya sendiri nampak tidak berubah selalu sama sebagaimana adanya. pemandangan padang rumput di daerah ini sangat mengagumkan walaupun nampak kering.

Pantai Batu Bolong
Berada 9 km arah utara kota Mataram, pantai ini memiliki batu yang besar dengan lubang di tengahnya. sebuah Pura hindu terletak diatasnya menghadap selat lombok dan diseberangnya bayangan gunung Agung yang megah di Bali. Setelah berjemur, bersantai dan bermain-main dipantai yang indah, coba tinggal sampai sore hari untuk menyaksikan keindahan matahari terbenam yang sangat menakjubkan, ketika matahari mulai menghilang dibalik gunung Agung dengan warna yang menyala...

Taman Mayura
Taman Mayura adalah peningggalan yang masih ada dari Kerajaan Karang asem dari Bali dengan raja A.A. Ngurah. dibangun pada tahun 1744. ditengah danau ada bangunan yang disebut Balai kambang yang pada masa itu berfungsi sebagai ruang persidangan dan juga sebagai ruang pertemuan. yang sangat menarik adalah arsitektur bangunan menunjukkan pengaruh Hindu dan Islam,dimana disekitarnya ditemukan patung dari batu dalam bentuk Islam.

Pura Meru
Peninggalan lain Kerajaan Karang Asem yang masih tersisa adalah Pura Meru di Cakranegara, dekat kota Mataram. pura ini dibangun pada tahun 1720 pada masa raja A.A. Made sebagai simbol persatuan di pulau Lombok. beberapa bangunan ditemukan di komplek ini, semuanya didesign dengan tujuan tertentu, termasuk 33 altar yang berada di sebelah pura utama.
Pantai Kuta
juga dikenal sebgai pantai Putri nyale, Berada di pesisir selatan lombok tengah, merupakan pemandangan pantai yang paling indah dan tidak membosankan disalah satu bagaian Indonesia. Dari Kuta ke tanjung Aan hanya 5 km, Pantai dengan pasir putih yang menghampar di lautan India. Aman untuk berjemur dan berenang. agak jauh ke barat pantai untuk surfing dan windsurfing. setiap tahun, pada tanggal 19 bulan ke-10 kalender sasak, ketika ikan Nyale muncul kepermukaan, di Pantai Kuta diadakan festifal Putri Nyale.
Nelayan akan berlayar keluar sementara anak muda dan perempuan bersama-sama di pantai bergabung mencari jodoh, saling menggoda dengan harapan menemukan pasangan hidup.

Gili Air, Gili Meno dan Gili Trawangan.
Gili, dalam bahasa sasak artinya pulau kecil, ketiga pulau ini berjajar berada disebelah tenggara pantai lombok. taman laut yang indah di air yang jernihdisekitar pulau. Gili air adalah yang terdekat dapat dicapai dalam waktu 10 smpai 15 menit dengan perahu boat dari pelabuhan Bangsal, dekat pamenang.

Pantai senggigi
Senggigi, sebelah selatan Bangsal, memiliki pantai yang sangat indah dan paling populer di pulau lombok dengan fasilitas penginapan yang bagus. Taman laut hanya tumbuh di lepas pantai.

Gunung Rinjani
Gunung rinjani, dengan ketinggian 3,726 m merupakan gunung berapi yang aktif, merupak salah satu gunung tertinggi di Indonesia.Pada lantai gunung rinjani mempunyai kaldera yang sangat besarberbentuk bulan sabit yang disebut segara anak, dikelilingi dinding yang terjal, Rinjani sangat populer dikalangan pendaki, Sembalun bumbung dan sembalun Lawang adalah dua desa tradisional di lereng rinjani.


Sekilas Tentang Lombok Tengah
Kabupaten Lombok Tengah adalah salah satu Daerah Tingkat II di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Ibu kota daerah ini ialah kota Praya. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.208,39 km²; dan populasi 745.433 jiwa
Kabupaten Lombok Tengah terletak pada posisi 82° 7' - 8° 30' Lintang Selatan dan 116° 10' - 116° 30' Bujur Timur, membujur mulai dari kaki Gunung Rinjani di sebelah Utara hingga ke pesisir pantai Kuta di sebelah Selatan, dengan beberapa pulau kecil yang ada disekitarnya.
Luas wilayah Kabupaten Lombok Tengah adalah 1.208,39 Km² dengan batas-batas sebagai berikut:
 Utara: Gunung Rinjani (Kabupaten Lombok Barat dan Kabupaten Lombok Timur)
 Selatan: Samudera Indonesia
 Timur: Kabupaten Lombok Timur
 Barat: Kabupaten Lombok Barat
Wilayah Lombok Tengah yang membujur dari utara ke selatan tersebut mempunyai letak dan ketinggian yang bervariasi mulai dari nol (0) hingga 2000 meter dari permukaan laut.
Jenis Tanah:
Aluvial: 2.764 Ha
Regusol Kelabu: 20.387 Ha
Kompleks Gromusol Kelabu Tua: 3.947 Ha
Gromusol Kelabu: 34.306 Ha
Regusol Coklat: 8.225 Ha
Brown Forest Soil: 9.575 Ha
Kompleks Mediteran Coklat: 41.635 Ha
Berdasarkan klasifikasi Schmid dan Ferguson, Kabupaten Lombok Tengah memiliki iklim D dan iklim E yaitu Hujan Tropis dengan musim kemarau kering, yaitu mulai bulan November sampai dengan Mei, sementara curah hujan berkisar antara 1.000 hingga 2.500 mm pertahun
1. 1000 mm - 1750 mm Kecamatan Janapria, Praya, dan Kec. Praya Tengah
2. 1000 mm - 2000 mm Kecamatan Janapria
3. 1500 mm - 2500 mm Kecamatan Batukliang Utara, Jonggat, Kopang, Praya Barat Daya, dan kecamatan Pringgarata
(Sumber : Dinas Pertanahan Kab. Lombok Tengah Tahun 2001)
Menurut data hasil sensus penduduk tahun 2000, jumlah penduduk Kabupaten Lombok Tengah sebanyak 745.433 jiwa (laki-laki 350.734 jiwa dan perempuan 394.699 jiwa), dengan Sex Ratio 89. Laju pertumbuhan sebesar 0.97%. Tingkat Pertumbuhan merupakan kemajuan dari sebelumnya, yaitu 211% per tahun (periode 1970 - 1980) dan 1,64% per tahun (periode 1980 - 1990). Tingkat kepadatan mencapai 617 jiwa/km²
Mengingat sebagian wilayah Kabupaten Lombok Tengah merupakan areal pertanian, maka sebagian besar penduduknya hidup sebagai petani. Secara keseluruhan, prosentase pembagian penduduk di Kabupaten Lombok Tengah dari segi mata pencaharian adalah : Pertanian 72%, Industri 7%, Jasa 7%, Perdagangan 7%, Angkutan 3%, Konstruksi 2%, lain-lain 2%.
Wilayah bagian utara selain memiliki potensi pertanian yang prosfektif juga menyimpan asset pariwisata terutama pariwisata alam pegunungan yang dapat dikembangkan untuk menarik wisatawan nusantara maupun mancanegara datang menikmati keindahan alam Lombok Tengah. Sarana serta prasarana perlu terus ditingkatkan terutama sarana transportasi, irigasi, serta telekomunikasi agar keuntungan ekonomi dibidang pertanian maupun sektor lainnya berdampak pada percepatan proses transformasi ekonomi maupun seosial budaya diwilayan bagian utara ini.
Bagian tengah meliputi : kecamatan Praya, Praya Tengah, Praya Barat, Praya Barat Daya, Praya Timur, Janapria dan sebagian Kecamatan Jonggat. Merupakan wilayah dataran rendah dengan potensi yang ada berupa pertanian padi dan palawija. Didukung oleh hamparan lahan sawah yang luas dan sarana irigasi yang memadai.
Sedangkan dibagian selatan merupakan daerah yang berbukit- bukit, meliputi kecamatan Pujut, sebagian Kecamatan Praya Barat, Praya Barat Daya dan Praya Timur. Wilayah bagian selatan dikembangkan untuk pariwisata, pertanian dan sektor- sektor lainnya yang sesuai. Fasilitas penunjang pariwisata seperti hotel, kualitas jalan raya dan sarana transportasi lainnya juga cukup menunjang. Lombok Tengah beriklim tropis, dengan musim kemarau yang kering. Musim hujan mulai sekitar bulan November sampai dengan bulan April/ Mei dengan curah hujan rata- rata tertinggi bulan Januari/ Februari dan terendah pada bulan Juli / Agustus. Sumber mata air terdapat di wilayah bagian utara dengan cadangan debit air seluruhnya sekitar 2.637 liter/detik. Sungai-sungai yang ada di Lombok Tengah umumnya berair pada musim hujan. Sementara keadaan flora dan fana pada umumnya sama dengan kabpaten lainnya di pulau Lombok merupakan peralihan dari Benua Asia dan Australia.

Daerah Pariwisata Lombok Tengah
Lombok Tengah memiliki banyak daerah pariwisata andalan diantaranya adalah :
• Semenanjung pantai selatan Lombok Tengah yang mencakup 16 pantai indah yang dimulai dari Pantai Kelor (berbatasan dengan Lombok Timur) hingga ke pantai Pengantap (berbatasan dengan Lombok Barat) dengan jarak sejauh 72 Km.
• Wisata air terjun benang stokel. Tempat ini berada sekitar 30 km kearah utara dari Kota Mataram. Suasana tempat wisata ini masih sangat alami, dengan air terjun dari mata air yang sangat menyejukan dan menyehatkan. Banyak orang percaya bahwa segala penyakit misalnya stress dapat disembuhkan ketika berkunjung kesana.
• Pasar sentra kerajinan gerabah di Penujak Batujai. Disini anda akan mendapatkan berbagai macam kerajinan tangan berupa anyaman gerabah dan lain-lain sebagai cindera mata, harganya pun cukup terjangkau.
• Sentra anyaman kain tenun (Songket) di Sukarara. Di tempat ini, anda akan menemukan sentra pengrajin kain tenun khas Lombok yang disebut dengan Songket. Songket ini sering digunakan sebagai pakaian adat pada acara-acara tertentu seperti pernikahan, jamuan para tamu, dan lain-lain. Kain songket juga menjadi ciri khas pakaian adat Lombok.
• Berbagai wisata kolam renang yang tidak kalah menariknya.

Peta Geografis Pulau Lombok











Gambar : Peta Pulau Lombok













Gambar : Peta Lombok Tengah
Pantai Kuta
Pantai Kuta, Lombok adalah tempat wisata di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Pantai dengan pasir berwarna putih ini terletak sebuah desa bernama Desa Kuta. Desa Kuta mulai menjadi tempat tujuan wisata yang menarik di Indonesia sejak didirikannya banyak hotel-hotel baru. Selain keindahan alam yang dapat dinikmati di desa ini, satu kali dalam setahun diadakan upacara Sasak di desa ini.

Pantai Kuta, Lombok adalah tempat wisata di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Pantai dengan pasir berwarna putih ini terletak sebuah desa bernama Desa Kuta. Desa Kuta mulai menjadi tempat tujuan wisata yang menarik di Indonesia sejak didirikannya banyak hotel-hotel baru. Selain keindahan alam yang dapat dinikmati di desa ini, satu kali dalam setahun diadakan upacara Sasak di desa ini. Ini adalah upacara Bau Nyale. Dalam upacara ini para pelaut mencari cacing Nyale di laut. Menurut legenda, dahulunya ada seorang putri, bernama Putri Mandalika, yang sangat cantik, banyak pangeran dan pemuda yang ingin menikah dengannya. Karena ia tidak dapat mengambil keputusan, maka ia terjun ke air laut. Ia berjanji sebelumnya bahwa ia akan datang kembali satu kali dalam setahun. Rambutnya yang panjang kemudian menjadi cacing Nyale tersebut.
Desa Kute dengan pantai pasir putihnya terletak di pantai Selatan pulau Lombok. Dikelilingi oleh deretan perbukitan. Di pagi hari pemandangan yang menakjubkan dapat dilihat dari puncak perbukitan tersebut. Selain itu terdpat banyak pantai-pantai yang tak kalah menariknya di sepanjang pantai Selatan. Di antaranya pantai Seger, Aan, Mawi, Selong Belanak, Rowok dan Mawun. Dua yang terakhir sangat bagus sebagai lokasi untuk selancar angin maupun untuk olahraga pantai lainnya.

Festival Bau Nyale Mandalika
Setiap tanggal duapuluh bulan kesepuluh dalam penanggalan Sasak atau lima hari setelah bulan purnama, menjelang fajar di pantai Seger Kabupaten Lombok Tengah selalu berlangsung acara menarik yang dikunjungi banyak orang termasuk wisatawan. Kali ini, acara tersebut selama tiga hari, 7-9 Maret 2007. Acara yang menarik itu bernama Bau Nyale. Bau dari bahasa Sasak artinya menangkap. Sedangkan Nyale, sejenis cacing laut yang hidup di lubang - lubang batu karang di bawah permukaan laut. Penduduk setempat mempercayai Nyale memiliki tuah yang dapat mendatangkan kesejahteraan bagi yang menghargainya dan mudarat bagi orang yang meremehkannya.”Itulah yang berkembang selama ini,” ujar seorang warga Lombok Tengah Lalu Wirekarme.

Tradisi menangkap Nyale (bahasa sasak Bau Nyale) dipercaya timbul akibat pengaruh keadaan alam dan pola kehidupan masyarakat tani yang mempunyai kepercayaan yang mendasar akan kebesaran Tuhan, menciptakan alam dengan segala isinya termasuk binatang sejenis Anelida yang disebut Nyale. Kemunculannya di pantai Lombok Selatan yang ditandai dengan keajaiban alam sebagai rahmat Tuhan atas makhluk ini.
Beberapa waktu sebelum Nyale keluar hujan turun deras dimalam hari diselingi kilat dan petir yang menggelegar disertai dengan tiupan angin yang sangat kencang. Diperkirakan pada hari keempat setelah purnama, malam menjelang Nyale hendak keluar, hujan menjadi reda, berganti dengan hujan rintik - rintik, suasana menjadi demikian tenang, pada dini hari Nyale mulai menampakkan diri bergulung - gulung bersama ombak yang gemuruh memecah pantai, dan secepat itu pula Nyale berangsur - angsur lenyap dari permukaan laut bersamaan dengan fajar menyingsing di ufuk timur.
Dalam kegiatan ini terlihat yang paling menonjol adalah fungsi solidaritas dan kebersamaan dalam kelompok masyarakat yang dapat terus dipertahankan karena ikut mendukung kelangsungan budaya tradisional.

Keajaiban Nyale bagi suku Sasak Lombok telah menimbulkan dongeng tentang kejadian yang tersebar hampir keseluruh lapisan masyarakat Lombok dan sekitarnya. Dongeng ini sangat menarik dengan cerita yang sangat romantis dan berkembang melalui penuturan orang - orang tua yang kemudian tersusun dalam naskah tentang legenda Nyale.
Menurut dongeng bahwa pada zaman dahulu di pantai selatan Pulau Lombok terdapat sebuah kerajaan yang bernama Tonjang Beru. Sekeliling di kerajaan ini dibuat ruangan - ruangan yang besar. Ruangan ini digunakan untuk pertemuan raja - raja. Negeri Tonjang Beru ini diperintah oleh raja yang terkenal akan kearifan dan kebijaksanaannya Raja itu bernama raja Tonjang Beru dengan permaisurinya Dewi Seranting.
Baginda mempunyai seorang putri, namanya Putri Mandalika. Ketika sang putri menginjak usia dewasa, amat elok parasnya. Ia sangat anggun dan cantik jelita. Matanya laksana bagaikan bintang di timur. Pipinya laksana pauh dilayang. Rambutnya bagaikan mayang terurai. Di samping anggun dan cantik ia terkenal ramah dan sopan. Tutur bahasanya lembut. Itulah yang membuat sang putri menjadi kebanggaan para rakyatnya.

Semua rakyat sangat bangga mempunyai raja yang arif dan bijaksana yang ingin membantu rakyatnya yang kesusahan. Berkat segala bantuan dari raja rakyat negeri Tonjang Beru menjadi hidup makmur, aman dan sentosa. Kecantikan dan keanggunan Putri Mandalika sangat tersohor dari ujung timur sampai ujung barat pulau Lombok. Kecantikan dan keanggunan sang putri terdengar oleh para pangeran - pangeran yang membagi habis bumi Sasak (Lombok). Masing - masing dari kerajaan Johor, Lipur, Pane, Kuripan, Daha, dan kerajaan Beru. Para pangerannya pada jatuh cinta. Mereka mabuk kepayang melihat kecantikan dan keanggunan sang putri.

Mereka saling mengadu peruntungan, siapa bisa mempersunting Putri Mandalika. Apa daya dengan sepenuh perasaan halusnya, Putri Mandalika menampik. Para pangeran jadi gigit jari. Dua pangeran amat murka menerima kenyataan itu. Mereka adalah Pangeran Datu Teruna dan Pangeran Maliawang. Masing - masing dari kerajaan Johor dan kerajaan Lipur. Datu Teruna mengutus Arya Bawal dan Arya Tebuik untuk melamar, dengan ancaman hancurnya kerajaan Tonjang Beru bila lamaran itu ditolaknya. Pangeran Maliawang mengirim Arya Bumbang dan Arya Tuna dengan hajat dan ancaman yang serupa.
Putri Mandalika tidak bergeming. Serta merta Datu Teruna melepaskan senggeger Utusaning Allah, sedang Maliawang meniup Senggeger Jaring Sutra. Keampuhan kedua senggeger ini tak kepalang tanggung dimata Putri Mandalika, wajah kedua pangeran itu muncul berbarengan. Tak bisa makan, tak bisa tidur, sang putri akhirnya kurus kering. Seisi negeri Tonjang Beru disaput duka.

Kenapa sang putri menolak lamaran ? Karena, selain rasa cintanya mesti bicara, ia juga merasa memikul tanggung jawab yang tidak kecil. Akan timbul bencana manakala sang putri menjatuhkan pilihannya pada salah seorang pangeran. Dalam semadi, sang putri mendapat wangsit agar mengundang semua pangeran dalam pertemuan pada tanggal 20 bulan 10 ( bulan Sasak ) menjelang pagi - pagi buta sebelum adzan subuh berkumandang. Mereka harus disertai oleh seluruh rakyat masing - masing. Semua para undangan diminta datang dan berkumpul di pantai Kuta. Tanpa diduga - duga enam orang para pangeran datang, dan rakyat banyak yang datang, ribuan jumlahnya. Pantai yang didatangi ini bagaikan dikerumuni semut. Ada yang datang dua hari sebelum hari yang ditentukan oleh sang putri. Anak - anak sampai kakek - kakek pun datang memenuhi undangan sang putri ditempat itu. Rupanya mereka ingin menyaksikan bagaimana sang putri akan menentukan pilihannya. Pengunjung berduyun - duyun datang dari seluruh penjuru pulau Lombok. Merekapun berkumpul dengan hati sabar menanti kehadiran sang putri. Betul seperti janjinya. Sang putri muncul sebelum adzan berkumandang. Persis ketika langit memerah di ufuk timur, sang putri yang cantik dan anggun ini hadir dengan diusung menggunakan usungan yang berlapiskan emas. Prajurit kerajaan berjalan di kiri, di kanan, dan di belakang sang putri. Sungguh pengawalan yang ketat. Semua undangan yang menunggu berhari - hari hanya bisa melongo kecantikan dan keanggunan sang putri. Sang putri datang dengan gaun yang sangat indah. Bahannya dari kain sutera yang sangat halus.
Tidak lama kemudian, sang putri melangkah, lalu berhenti di onggokan batu, membelakangi laut lepas. Disitu Putri Mandalika berdiri kemudian ia menoleh kepada seluruh undangannya. Sang putri berbicara singkat, tetapi isinya padat, mengumumkan keputusannya dengan suara lantang dengan berseru : ”Wahai ayahanda dan ibunda serta semua pangeran dan rakyat negeri Tonjang Beru yang aku cintai. Hari ini aku telah menetapkan bahwa diriku untuk kamu semua. Aku tidak dapat memilih satu diantara pangeran. Karena ini takdir yang menghendaki agar aku menjadi Nyale yang dapat kalian nikmati bersama pada bulan dan tanggal saat munculnya Nyale di permukaan laut.”
Bersamaan dan berakhirnya kata - kata tersebut para pangeran pada bingung rakyat pun ikut bingung dan bertanya - tanya memikirkan kata - kata itu. Tanpa diduga - duga sang putri mencampakkan sesuatu di atas batu dan menceburkan diri ke dalam laut yang langsung di telan gelombang disertai dengan angin kencang, kilat dan petir yang menggelegar.
Tidak ada tanda - tanda sang putri ada di tempat itu. Pada saat mereka pada kebingungan muncullah binatang kecil yang jumlahnya sangat banyak yang kini disebut sebagai Nyale. Binatang itu berbentuk cacing laut. Dugaan mereka binatang itulah jelmaan dari sang putri. Lalu beramai - ramai mereka berlomba mengambil binatang itu sebanyak - banyaknya untuk dinikmati sebagai rasa cinta kasih dan pula sebagai santapan atau keperluan lainnya.
Itulah kisah Bau Nyale. Penangkapan Nyale menjadi tradisi turun - temurun di pulau Lombok. Pada saat acara Bau Nyale yang dilangsungkan pada masa sekarang ini, mereka sejak sore hari mereka yang akan menangkap Nyale berkumpul di pantai mengisi acara dengan peresean, membuat kemah dan mengisi acara malam dengan berbagai kesenian tradisional seperti Betandak (berbalas pantun), Bejambik (pemberian cendera mata kepada kekasih), serta Belancaran (pesiar dengan perahu). Dan tak ketinggalan pula, digelar drama kolosal Putri Mandalika di pantai Seger.
Warga masyarakat yang datang ke pantai Seger untuk ikut melaksanakan upacara Bau Nyale datang dengan menggunakan kendaraan. Nyale bagi penduduk Lombok Selatan dengan lahan persawahan tadah hujan merupakan benda rahmat Tuhan yang bisa digunakan sebagai tanda keberhasilan panen yang memuaskan.
Tradisi Bau Nyale - menangkap cacing laut - sebagai bagian dari legenda Putri Mandalika di Lombok.Di sana, warga dari sekeliling Lombok berdatangan sejak malam sebelumnya.
Lalu Wirekarme yang pernah menjabat Kepala Sub Dinas Pemasaran Dinas Pariwisata Lombok Tengah, menjelaskan bahwa acara ini sebenarnya sudah berlangsung turun temurun secara alami. Namun, setelah berkembangnya pariwisata di Lombok, kemeriahan pun semakin dipoles adanya atraksi tambahan berupa pementasan drama kolosal Putri Mandalika yang dihadiri oleh pejabat lokal hingga provinsi Nusa Tenggara Barat bahkan tidak sedikit yang datang dari Jakarta.
Bau Nyale ada di 16 pantai yang memanjang sejauh 72 kilometer dari arah timur hingga ke barat di selatan Lombok Tengah. Utamanya dilaksanakan di pantai Seger dan sekitarnya. Pantai obyek pariwisata yang potensial di Nusa Tenggara Barat. Keindahan pantai ini membuat hati para wisatawan menjadi kagum melihat segala pemandangan alamnya. Perairan di sekitar pantai Kuta hingga pantai Tanjung Aan sangat cocok untuk berenang. Pantai ini terletak di bagian selatan pulau Lombok, kira - kira 54 kilometer tenggara kota Mataram. Suasananya tenang senyap menyambut langkah - langkah diantara pasir putih halus - bagaikan merica - yang membentang dari ujung barat ke ujung timur dengan puluhan kawasan wisata mulai dari pantai Ujung Kelor yang berbatasan dengan Lombok Timur, hingga pantai Pengantap di Lombak Barat.
Seperti biasanya, dipadati ribuan kaum muda setelah menungguinya di tengah hujan deras sepanjang malam. Mereka yang rela menahan dingin dan kantuk di Pantai Seger di Desa Kuta Kecamatan Pujut dalam kawasan PT Pengembangan Pariwisata Lombok tersebut yang datang tidak hanya dari warga desa di Kecamatan Pujut saja. Tetapi juga para muda-mudi dari Mataram dan Praya yang datang mengendarai ratusan mobil.Pantai Seger yang kini lebih dikenal dengan pantai Putri Nyale ini pun dilengkapi oleh lereng - lereng yang terjal dari bukit yang berbatasan dengan bibir pantai. Sungguh, alam mempesona. Di pantai selatan itulah hidup dan tersebar suatu legenda sehubungan dengan adanya Nyale (sejenis cacing laut) yang muncul satu kali dalam setahun.
Nyale ditangkap di beberapa tempat di pantai selatan pulau Lombok antara lain di pantai Kaliantan, Kuta, Selong Belanak, Mawun. Lokasi yang terbaik dikunjungi wisatawan adalah pantai Seger desa Kuta dengan kondisi prasarana yang cukup memadai. Nyale pada melakukan pembuahan muncul di permukaan laut yang dimulai pada waktu fajar sampai sebelum matahari terbit. Munculnya Nyale di permukaan laut pada saat menjelang fajar yang disinari oleh rembulan membawa keindahan yang menarik dan merangsang para nelayan untuk menangkap Nyale dan lama kelamaan menjadi tradisi budaya. Munculnya Nyale dipermukaan laut terjadi setiap tahun sekitar bulan Februari.

Mitologi Masyarakat Tentang Cacing Nyale (Eunice fucata).
 Nyale merupakan jenis hewan laut dari jelmaan Putri Mandalika (Sarah Wulan) dari kerajaan Tonjang Beru. Muncul sekali setahun pada kisaran bulan Februari-Maret (Tgl 20 bln 10 dalam Penanggalan Sasak).
 Nyale dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan bernutrisi dan sebagai obat berbagai macam penyakit, serta dapat dijadikan sebagai penyubur tanaman.
 Sesaat sebelum munculnya nyale, wajib diadakan ritual/upacara adat sasak berupa Betandak, Bejambik, dan Belacaran, dilakukan oleh semua masyarakat yang saat itu berada di sekitar pantai.
 Nyale dapat Memberikan kesejahteraan dan kemakmuran bagi kehidupan masyarakat Lombok khususnya. Semakin banyak nyale, maka semakin banyak pula kemakmuran.
Menurut hasil wawancara terhadap penduduk sekitar dan para pengunjung, banyak yang mengaku bahwa mereka menangkap Cacing Nyale untuk keperluan obat-obatan, ada juga yang memanfaatkan sebagai makanan dengan memasaknya dengan berbagai cara misal dipepes, digoreng dan sebagainya, bahkan ada juga yang menjualnya ke orang lain dengan harga yang cukup menguntungkan. Berikut adalah hasil wawancara kami dengan para pengunjung Pantai Kuta yang menangkap Nyale di Lombok Tengah.
"Sebagian nyale saya jual dengan harga Rp25.000 kepada pedagang pengumpul, sebagian lagi saya bawa pulang untuk lauk," kata Amaq Nasirah (52), salah seorang warga yang menjual sekitar 0,25 kilogram nyale hasil tangkapannya, Minggu. Amaq Nasirah merupakan seorang dari puluhan ribu warga yang hadir dalam Bau Nyale, perayaan pesta rakyat Lombok Bagian Selatan itu.
Nyale (anelida polycaetae) atau sejenis cacing laut yang ditangkap itu diyakini merupakan jelmaan dari Putri Mandalika yang pada ratusan tahun silam memilih menceburkan diri ke Laut Selatan Pulau Lombok ketika kesulitan memilih satu dari tiga pangeran yang sangat ingin mempersuntingnya. Konon saat menceburkan diri itu Putri Mandalika berubah menjadi nyale yang kemudian diasumsikan oleh masyarakat di sekitar pantai selatan itu kalau Putri Mandalika berubah menjadi nyale agar berguna bagi banyak orang, daripada menjadi objek perebutan ketiga pangeran tersebut.
Nasirah mengaku, untuk mendapatkan nyale dalam jumlah banyak, harus melibatkan anggota keluarga karena yang menangkap nyale berjumlah ribuan orang dari berbagai pelosok Pulau Lombok.
"Saya dengan istri dan anak turun ke pantai bersama-sama mulai pukul 04.00 hingga fajar terbit. Kalau sendiri saja mungkin tidak ada yang bisa dijual karena dapatnya pasti sedikit, apalagi yang nangkap jumlahnya banyak," katanya menjelaskan.
Sementara itu, salah seorang warga Kota Mataram, Murdan (45) mengatakan, nyale yang dibeli seharga Rp100.000 per satu kilogram akan diolah menjadi pepes, atau camilan dalam bentuk keripik nyale. "Setiap tahun saya selalu mengikuti acara pesta rakyat ini untuk memburu nyale karena rasanya enak dan gurih kalau sudah diolah" ujarnya.
Tradisi Bau Nyale yang sudah turun-temurun sejak ratusan tahun silam itu didasarkan pada penghitungan penanggalan menurut tahun Sasak.

Deskripsi Sains tentang Cacing Nyale (Eunice fucata)
 Eunice fucata adalah sejenis cacing laut dari filum Annelida, kelas Polychaeta (berambut banyak).
 Tubuhnya dibagi menjadi daerah kepala (Prostomium) dengan mata, antena dan sensor palpus.
 Memiliki sepasang struktur seperti dayung, disebut parapodia (tunggal:parapodium) pada setiap segmen tubuhnya. Berfungsi sebagai alat gerak dan mengandung pembuluh darah halus sehingga berfungsi juga sebagai insang untuk bernapas.
 Hewan ini termasuk hewan bebas (tapi bukan parasit) yang hidup di lingkungan air laut dengan kondisi iklim dan keadaan tempat tertentu.
 Berkembang biak semusim sekali, biasanya pada musim hujan. Keadaan tubuhnya sangat sensitif terhadap cahaya matahari dan bahan pencemar, dan tidak cocok berkembang biak pada air tawar.
 Nyale memiliki tubuh yang sangat lentur dan lembut seperti mie yang nyaris menjadi bubur. Warnanya beragam, ada merah, hijau, cokelat dan abu-abu yang memiliki kandungan zat mengandung nutrisi yang beragam.
 Nyale hanya dapat hidup pada air laut yang belum tercemar.
Sumber : Dr. dr. Soewignyo Soemohardjo; penelitian cacing nyale. Dan penelitian oleh Zainul Muttakin; nyale sebagai indikator tercemarnya air laut.



Manfaat dan Kandungan Nyale
 Menurut penelitian dari seorang Peneliti bernama Dr dr Soewignyo Soemohardjo, cacing Nyale ini telah diketahui mengeluarkan suatu zat yang sudah terbukti bisa membunuh kuman-kuman. Hewan ini juga mengandung protein yang sangat tinggi.
 Nyale dapat dijadikan sebagai penyubur tanaman karena memiliki zat-zat penting yang dimiliki oleh tanaman, tanaman yang cocok adalah padi.
 Dapat dijadikan metode untuk memngukur kualitas air laut dan sebagai indikator tercemarnya air laut.





Gambar : Pepes Nyale.

Morfologi Cacing Nyale











BAB III
Pembahasan Masalah dan Analisis Dampak Lingkungan
A. Pembahasan Masalah
Annelida (dalam bahasa latin, annulus = cincin) atau cacing gelang adalah kelompok cacing dengan tubuh bersegmen.
Berbeda dengan Platyhelminthes dan Nemathelminthes, Annelida merupakan hewan tripoblastik yang sudah memiliki rongga tubuh sejati (hewan selomata).Namun Annelida merupakan hewan yang struktur tubuhnya paling sederhana. Ciri tubuh annelida meliputi ukuran, bentuk, struktur, dan fungsi tubuh. Annelida memiliki panjang tubuh sekitar 1 mm hingga 3 m.Contoh annelida yang panjangnya 3 m adalah cacing tanah Australia.Bentuk tubuhnya simetris bilateral dan bersegmen menyerupai cincin. Annelida memiliki segmen di bagian luar dan dalam tubuhnya.Antara satu segmen dengan segmen lainya terdapat sekat yang disebut septa.Pembuluh darah, sistem ekskresi, dan sistem saraf di antara satu segmen dengan segmen lainnya saling berhubungan menembus septa. Rongga tubuh Annelida berisi cairan yang berperan dalam pergerakkan annelida dan sekaligus melibatkan kontraksi otot.
Ototnya terdiri dari otot melingkar (sirkuler) dan otot memanjang (longitudinal). Sistem pencernaan annelida sudah lengkap, terdiri dari mulut, faring, esofagus (kerongkongan), usus, dan anus.Cacing ini sudah memiliki pembuluh darah sehingga memiliki sistem peredaran darah tertutup.Darahnya mengandung hemoglobin, sehingga berwarna merah.Pembuluh darah yang melingkari esofagus berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh.
Sistem saraf annelida adalah sistem saraf tangga tali.Ganglia otak terletak di depan faring pada anterior.Ekskresi dilakukan oleh organ ekskresi yang terdiri dari nefridia, nefrostom, dan nefrotor.Nefridia (tunggal – nefridium) merupakan organ ekskresi yang terdiri dari saluran.Nefrostom merupakan corong bersilia dalam tubuh.Nefrotor merupaka npori permukaan tubuh tempat kotoran keluar.Terdapat sepasang organ ekskresi tiap segmen tubuhnya. Sebagian besar annelida hidup dengan bebas dan ada sebagian yang parasit dengan menempel pada vertebrata, termasuk manusia.Habitat annelida umumnya berada di dasar laut dan perairan tawar, dan juga ada yang segaian hidup di tanah atau tempat-tempat lembap.Annelida hidup diberbagai tempat dengan membuat liang sendiri. Annelida umumnya bereproduksi secara seksual dengan pembantukan gamet.Namun ada juga yang bereproduksi secara fregmentasi, yang kemudian beregenerasi.Organ seksual annelida ada yang menjadi satu dengan individu (hermafrodit) dan ada yang terpisah pada individu lain (gonokoris). Annelida dibagi menjadi tiga kelas, yaitu Polychaeta (cacing berambut banyak), Oligochaeta (cacing berambut sedikit), dan Hirudinea.
Polychaeta

Polychaeta (dalam bahasa yunani, poly = banyak, chaetae = rambut kaku) merupakan annelida berambut banyak.Tubuh Polychaeta dibedakan menjadi daerah kepala (prostomium) dengan mata, antena, dan sensor palpus.
Polychaeta memiliki sepasang struktur seperti dayung yang disebut parapodia (tunggal = parapodium) pada setiap segmen tubuhnya.Fungsi parapodia adalah sebagai alat gerak dan mengandung pembuluh darah halus sehingga dapat berfungsi juga seperti insang untuk bernapas.Setiap parapodium memiliki rambut kaku yang disebut seta yang tersusun dari kitin.
Contoh Polychaeta yang sesil adalah cacing kipas (Sabellastarte indica) yang berwarna cerah.Sedangkan yang bergerak bebas adalah Nereis virens, Marphysa sanguinea, Eunice viridis(cacing palolo), dan Lysidice oele(cacing wawo).



Oligochaeta

Oligochaeta (dalam bahasa yunani, oligo = sedikit, chaetae = rambut kaku) yang merupakan annelida berambut sedikit.Oligochaeta tidak memiliki parapodia, namun memiliki seta pada tubuhnya yang bersegmen.Contoh Oligochaeta yang paling terkenal adalah cacing tanah.Jenis cacing tanah antara lain adalah cacing tanah Amerika (Lumbricus terrestris), cacing tanah Asia (Pheretima), cacing merah (Tubifex), dan cacing tanah raksasa Australia (Digaster longmani).Cacing ini memakan oarganisme hidup yang ada di dalam tanah dengan cara menggali tanah.Kemampuannya yang dapat menggali bermanfaat dalam menggemburkan tanah.Manfaat lain dari cacing ini adalah digunakan untuk bahan kosmetik, obat, dan campuran makan berprotein tinggi bagi hewan ternak.
Hirudinea
Hirudinea merupakan kelas annelida yang jenisnya sedikit.Hewan ini tidak memiliki arapodium maupun seta pada segmen tubuhnya.Panjang Hirudinea bervariasi dari 1 – 30 cm.Tubuhnya pipih dengan ujung anterior dan posterior yang meruncing.
Pada anterior dan posterior terdapat alat pengisap yang digunakan untuk menempel dan bergerak.Sebagian besar Hirudinea adalah hewan ektoparasit pada permukaan tubuh inangnya.Inangnya adalah vertebrata dan termasuk manusia.Hirudinea parasit hidup denga mengisap darah inangnya, sedangkan Hirudinea bebas hidup dengan memangsa invertebrata kecil seperti siput.Contoh Hirudinea parasit adalah Haemadipsa (pacet) dan hirudo (lintah).
Saat merobek atau membuat lubang, lintah mengeluarkan zat anestetik (penghilang sakit), sehingga korbannya tidak akan menyadari adanya gigitan.Setelah ada lubang, lintah akan mengeluarkan zat anti pembekuan darah yaitu hirudin.Dengan zat tersebut lintah dapat mengisap darah sebanyak mungkin.
Cacing Nyale tergolong ke dalam kelompok Annelida laut kelas Polichaeta dengan habitat hidup di laut, namun perlu diingat jenis hewan ini sangat sensitive terhadap bahan pencemar, hewan ini akan dapat hidup dan berkembang dengan baik jika kondisi lingkungan tempat hidupnya masih dalam kondisi alami dan bebas dari pencemaran, hewan ini membutuhkan kadar garam dan mineral yang baik sehingga cocok untuk keberlangsungan hidupnya. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Zainul Muttakin telah dibahas dalam jurnal hasil penelitiannya yang berjudul “Nyale sebagai indikator tercemarnya air laut”.
Bagi peneliti, seperti Zainul, cacing nyale adalah media telaahan ilmiah yang bermanfaat untuk deteksi dini ada tidaknya pencemaran pada air laut. Hewan invertebrate membutuhkan habitat air yang bersih dari pencemaran.
Sifat itu menjadikan telur nyale sensitif terhadap bahan pencemar, seperti logam dan kimia lain, yang membuat telur berhenti membelah/berubah bentuk. Pembelahan telur itu bertepatan dengan bau nyale yang secara
biologis adalah pemijahan massal nyale, saat organ reproduksinya keluar dan pecah, kemudian terjadi pembuahan sel telur dan sel sperma.
Fenomena itu mulai disingkap Zainul lewat riset tahun 1993. "Kami ingin mengetahui ekologi nyale, mengapa proses nyale bisa terjadi, apa pengaruhnya," tutur Zainul. Dia menginap seminggu sambil membawa alat penelitian di Pantai Kute. Untuk pengamatan lanjutan, nyale dipelihara pada akuarium. Secara periodik, air akuarium harus diganti dengan air dari beberapa tempat, seperti Pantai Ampenan dan Pantai Sire, kawasan wisata Senggigi. Air laut pengganti asal Pantai Ampenan menyebabkan banyak nyale yang mati.
Dari gejala itu, Zainul melanjutkan penelitian. Tubuh cacing nyale betina (warna hijau) dan jantan (kuning) dipotong membujur untuk diambil sel telur dan spermanya, kemudian dicampur atau fertilisasi, dimasukkan dalam cawan berisi 10-300 mililiter air laut. Setelah membentuk membran fertilisasi, telur sejumlah
30-300 butir dipindah ke media air laut standar dan air sampel. Dari pengamatan mikroskop terlihat, rata-rata tiap satu jam, satu sel telur terbelah menjadi dua sel, ada 90 persen lebih sel telur terbelah jadi dua. Proses pembelahan ini dianggap normal, yang berarti air laut tidak tercemar. Jika interval waktu pembelahan sel lebih lama dari jarak rata-rata (abnormal), maka diduga kuat ada zat pencemar dalam air laut.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa kondisi pantai di Lombok Tengah masih sangat asri dan alami, tidak mengalami pencemaran sehingga tidak heran cacing nyale hanya banyak terdapat di semenanjung pantai Lombok Tengah. Hal ini dikarenakan kondisi ekologi pantai Lombok Tengah yang masih stabil dan sangat alami. Hal ini perlu dipertahankan agar kondisi ekologi daerah wisata Lombok Tengah tetap terjaga dengan baik dan dapat dinikmati oleh generasi ke generasi secara turun temurun.
Hasil kajian Zainul bisa membantu berbagai daerah yang dana penelitiannya terbatas. Selain itu juga punya relevansi dengan sebagian besar wilayah Indonesia yang berupa laut, yang kenyataannya dijadikan asset wisata dan sumber nafkah nelayan, sehingga air laut harus terjaga mutunya agar jagat laut dan isinya tetap memberi kehidupan bagi manusia. Celakanya hubungan harmoni antara sumber daya alam kian terganggu oleh kelakuan manusia. Cacing nyale yang keluar tidak tepat waktu, atau populasi tangkapannya yang relatif sedikit di kawasan Kute, agaknya terkait dengan aktivitas dan perilaku manusia seperti aksi peledakan bom dan penggunaan potassium yang memorakporandakan terumbu karang. Padahal, terumbu karang adalah sarang cacing nyale.
Setelah kita mengkaji lebih dalam dan mengetahui tentang apa itu cacing nyale, maka saya dapat mengatakan bahwa dilihat dari segi ilmiah cacing nyale (Eunice fucata) sangat tidak bisa dikatakan sebagai suatu jelmaan dari putrid Mandalika sebagaimana yang diyakini oleh masyarakat-masyarakat awam, karena kita tahu sendiri bahwa cacing nyale tidak lain hanyalah salah satu dari sekian banyak biota laut yang dapat kita temukan dan bukan menjadi suatu hal yang mistis dan dianggap istimewa sehingga perlu dilakukan ritual-ritual dan manuver lainnya hanya untuk mendapatkan cacing ini. Tanpa ritual pun jika siklusnya tiba, maka kita akan mendapatkannya di pinggir-pinggir pantai. Perihal dengan cacing nyale dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit dan dapat menyuburkan tanaman hal itu tak lain karena cacing nyale memang memiliki kandungan kimia yang baik untuk kesehatan dan pertumbuhan tanaman, jadi tidak ada unsur magis disini atau hanya karena hujan deras dan petir menyambar yang bernuansa mistis dan mencekam baru cacing ini akan muncul, karena memang siklus hidup cacing ini puncaknya pada musim hujan. Dan puncak musim hujan biasanya terjadi pada kisaran bulan Februari-maret. Hal inilah yang selalu disalahartikan oleh kebanyakan masyarakat, mereka selalu menganggap sesuatu yang langka menjadi hal yang bersifat misteri, mengaitkan dengan kisah-kisah atau legenda masa lalu namun sangat tidak realistis. Kita juga tidak mempunyai bukti yang kuat bahwa cacing nyale itu merupakan bentuk jelmaan dari Putri Mandalika, mungkin saja sebelum Putri Mandalika tiada cacing nyale ini sudah ada.
Namun, walau bagaimanapun kita harus menghargai kebudayaan yang kita miliki. Budaya di Indonesia telah menjadi tradisi yang sepertinya tidak boleh ditinggalkan dan harus tetap menjadi tradisi secara turun-temurun. Namun, apabila saya boleh berpendapat bahwa kebudayaan itu memang tidak ada salahnya, tapi kebudayaan tersebut juga perlu realistis, berdasarkan sumber-sumber yang relevan, kita tidak bisa menerima begitu saja suatu kebudayaan itu lahir tanpa mempertimbangkan hal-hal yang realistis, karena itu sama saja menjerumuskan diri kita sendiri dari aqidah agama. Menurut saya, kebudayaan seperti ini adalah tidak lain hanya sekedar ajang kemusyrikan bagi masyarakat. Mereka jadi lebih percaya kepada makhluk-makhluk seperti cacing untuk membantu menyelesaikan masalah hidupnya daripada memohon pertolongan kepada yang menciptakan makhluk. Pertolongan hanya datang dari Tuhan YME, yang lain hanya sebagai perantara saja. Jadi sebenarnya bukan seekor cacing yang menyembuhkan kita, tapi itu semua atas Kehendak dan Rahmat dari Tuhan YME. Cacing nyale kita ketahui memiliki kandungan kimia yang baik bagi kesehatan dan lain-lain, namun apabila kita sampai mendewa-dewakan hal itu, lalu menganggap hal itu menjadi satu-satunya yang dapat menolong kita, maka itu merupakan masalah yang tidak wajar dan tidak semestinya dilakukan. Namun, inilah yang terjadi pada kenyataannya. Seakan masyarakat kita telah hanyut dalam tradisi yang mereka yakini tersebut. Semuanya kembali kepada diri masing-masing, bagaimana kita menyikapi hal itu dengan bijak.

B. Analisis Dampak Lingkungan
Dampak-dampak keberadaan cacing nyale bagi pengembangan pariwisata di Lombok Tengah dan Pulau Lombok pada umumnya.
Pada saat ini, Pulau Lombok tengah menjadi perhatian serius berbagai pihak dalam rangka pembangunan di berbagai sektor di wilayah tersebut, terutama di bidang kepariwisataan. Terlebih lagi dengan rencana pembangunan Bandara Internasiional Lombok yang saat ini tengah dibangun di daerah Lombok Tengah telah menarik perhatian banyak pihak untuk menanam modal disana. Seperti yang kita ketahui Lombok memiliki banyak tempat wisata yang menarik seperti Pantai Kuta Lombok Tengah. Pantai Kuta dikenal dengan tradisi Bau Nyale / menangkap cacing laut yang diyakini sebagai jelmaan Putri Mandalika dan banyak mengandung manfaat karena mengandung bahan kimia yang baik. Dengan adanya tradisi seperti ini, banyak pengunjung yang tertarik untuk datang kesana guna mencari cacning nyale tersebut. Bagaimana dampak-dampak yang timbul dengan adanya cacing nyale terhadap kemajuan daerah Pariwisata Lombok Tengah ditinjau dari segi Ekonomi, Ekologi, Sosial, Politik dan Budaya? Berikut analisisnya.
 Dampak Ekonomi
Dengan adanya tradisi bau nyale di Lombok Tengah, hal ini membuat banyak pengunjung berdatangan baik wisatawan domestik maupun mancanegara untuk menikmati fenomena yang ada di tempat tersebut. Ini tentunya menjadi nilai tambah bagi pariwisata Lombok Tengah dan memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah Lombok Tengah. Apabila hal ini dapat dimanfaatkan oleh Pemerintah setempat dengan sebaik mungkin untuk meningkatkan perekonomian daerah Lombok Tengah, maka akan dapat menjadi modal yang baik untuk perencanaan pembangunan daerah Lombok Tengah ke arah yang baik lagi, dengan memperbaiki infrastruktur yang rusak dan menambah sarana prasarana yang menunjang keberhasilan pembangunan Lombok Tengah. Dengan ekonomi yang kuat, maka upaya pengembangan pembangunan akan menjadi lebih mudah, pelaksanaan eksplorasi daerah ke arah yang lebih luas lagi menjadi semakin efisien sehingga Lombok Tengah lebih dikenal di Dunia luar tidak kalah lagi oleh Bali, dan yang terpenting adalah kondisi kehidupan masyarakat akan lebih makmur dan sejahtera.

 Dampak Ekologi
Apabila daerah pariwisata di Lombok Tengah telah dikembangkan dan mulai di komersialkan terutama daerah pantai yang menjadi andalan pariwisata Lombok Tengah, dikhawatirkan keseimbangan ekologi di daerah tersebut akan rusak. Banyak terjadi pencemaran, pencurian karang, pembuangan limbah ke laut dan berbagai kerusakan-kerusakan lainnya yang mungkin terjadi. Hal ini tentu menjadi tugas pemerintah, bagaimana mempersiapkan hal tersebut agar kondisi ekologi tetap terjaga dan asri. Pemerintah tentunya tidak meninjau proyek ini hanya dari segi keuntungan ekonomi saja, tapi juga harus ditinjau dari segala aspek khususnya ekologi yang menjadi modal utama bagi pengembangan daerah wisata di Lombok Tengah.

 Dampak Sosial
Dengan upaya pembangunan daerah pariwisata di Lombok Tengah, dapat memberikan angin segar bagi masyarakat setempat. Karena dengan demikian, maka akan banyak membuka lapangan kerja baru, memberikan kesempatan dan peluang kerja bagi masyarakat kurang mampu untuk mendapatkan pekerjaan. Hal ini tentunya berdampak positif bagi kesejahteraan masyarakat setempat. Namun, masalah ini pula harus menjadi perhatian pemertintah. Pemerintah perlu memberikan upaya-upaya pengembangan dan peningkatan Sumber Daya Manusia, agar dapat menjadi modal mereka untuk bekerja disana, tidak hanya memberikan kesempatan bagi bangsa Asing saja tapi masyarakat Indonesia juga perlu dan mesti menjadi prioritas utama. Indonesia juga sebenarnya mampu memiliki Sumber Daya Manusia yang baik dan kompeten di bidangnya asalkan ada niat dan tekad sungguh-sungguh untuk berusaha. Negara kita sangatlah, namun sungguh ironislah apabila kita terus-terusan bergantung pada orang asing. Kita yang memiliki bangsa ini, kita pulalah yang berhak mengelolanya menjadi lebih baik.

 Dampak Politik
Dengan dibangunnya Bandara Internasional Lombok, maka daerah pariwisata Lombok akan lebih dikenal dan lebih mudah menarik minat pengunjung untuk datang kesana. Hal ini juga dapat memberikan peluang investasi yang cukup besar bagi para investor. Dengan modal ini, maka pemerintah akan dengan mudah menjalin kerjasama politik dengan pihak asing sehingga dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian bangsa. Namun, tetap harus ada batasan-batasan yang mesti dijaga agar tidak terjadi berbagai ketimpangan-ketimpangan seperti kecurangan politik, melihat Negara Asing sangat menginginkan menguasai Indonesia karena kekayaan alam yang melimpah. Ini perlu menjadi bahan perhatian bagi semua pihak, bahwa kita semua harus menjaga keutuhan NKRI dengan bersama-sama menjaga setiap wilayah kedaulatan Negeri agar tidak direbut oleh bangsa penjajah.

 Dampak Budaya
Tradisi Bau Nyale telah menjadi kebiasaan yang dilakukan masyarakat setiap tahunnya untuk menangkap cacing laut yang dianggap sebagai jelmaan Puteri Mandalika. Hal ini telah menjadi ciri khas daerah ini dan banyak dikenal masyarakat luas dengan kisahnya tersebut. Ini menjadi nilai tambah bagi Lombok Tengah, karena hal inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi pariwisata Lombok Tengah. Tradisi ini rutin dilakukan dengan berbagai acara atau pegelaran dan ritual-ritual yang dilakukan untuk mengisi kegiatan bau nyale tersebut. Jika tradisi ini tetap dilestarikan, maka kebudayaan daerah ini akan tetap terjaga melihat kebudayaan di Indonesia sudah semakin terkikis oleh zaman globalisasi. Tradisi Bau nyale harus dilestarikan guna menjaga keaslian budaya kita dan menjaga kekayaan alam sebagai anugerah sang Pencipta, walaupun bangsa asing banyak berdatangan ke sana, namun budaya asli tetap harus dijaga. Tapi kita juga perlu menyikapinya dengan bijak, dengan tidak menjadikan budaya sebagai suatu keyakinan melebihi aqidah kita sebagai makhluk beragama. Semua kembali kepada diri masing-masing.

Prospek Daerah Pariwisata Lombok
Bali sebagai kawasan wisata internasional bakal mendapat saingan berat dari daerah tetangga di masa datang. Ini menyusul rencana pengembangan megaproyek pariwisata Lombok, yang bakal disulap seperti BTDC Nusa Dua, Bali. Pihak BTDC (Bali Tourism Development Corporation) selaku pengembang pariwisata Bali juga membenarkan rencana proyek tersebut.
Megaproyek kawasan wisata elit di Lombok, NTB ini digarap investor pengembang properti dari Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), yakni Emaar Properties. Rencananya, pihak Emaar Properties akan memulai megaproyek ini tahun 2008. Megaproyek lokasi wisata megah Nusa Dua ala Lombok ini diperkirakan bakal menelan biaya 600 juta dolar AS atau sekitar Rp 5,446 triliun.
Keseriusan pihak Emaar Properties untuk menyulap Lombok seperti Bali ini ditandai dengan membuka kantor perwakilan di Jakarta. Nantinya, kantor perwakilan di Jakarta inilah yang akan mengatur proyek pertama Emaar Properties di Indonesia, yakni megaproyek pariwisata Lombok dan sejumlah proyek besar lainnya di daerah Bumi Gora. “Kantor perwakilan Emaar Properties di Jakarta akan mengarahkan upaya perusahaan untuk mengidentifikasi peluang pertumbuhan baru di negara ini (Indonesia). Juga, memastikan agar jalannya proyek Lombok tepat waktu, sehingga berpotensi menjadi pusat tujuan wisata seperti Bali,” ungkap Chairman Emaar Properties, Mohamed Ali Alabbar, dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (13/5). Pembukaan kantor perwakilan Emaar Properties di Jakarta dilakukan setelah adanya kesepakatan Joint Venture PT BTDC (Pengembang Pariwisata Bali) (untuk proyek Lombok, serta menjajaki peluang pengembangan lainnya di Indonesia.
“Dengan rencana pengembangan untuk Indonesia ini, maka Emaar Properties memantapkan perluasan geografisnya di Asia,” tandas Ali Alabbar sebagaimana dilaporkan detikFinance, Selasa kemarin. Emaar Properties adalah salah satu perusahaan real estat terbesar di dunia yang tercatat di Dubai Financial Market, bagian dari Dow Jones Arabia Titans Index dan mempunyai sertifikasi standar kualitas ISO9001:2000.
Emaar Properties sendiri merupakan pengembang properti pertama dari Timur Tengah dan Afrika Utara yang melebarkan sayap ke Indonesia, dengan fokus menggarap sektor pariwisata. Sementara, kawasan yang akan digarap Emaar Properties menjadi area megaproyek pariwisata ini berada di Lombok Barat, dengan lahan seluas lebih dari 1.175 hektare. Rencana induk megaproyek pariwisata di Lombok Barat tersebut berlokasi di Pantai Kuta dan Tanjung, yang sangat bersih dan akan mengintegrasikan unsur alam menjadi kawasan hunian, bersantai dan hiburan. Ragam kegiatan bersantai, mencakup olahraga menyelam, snorkeling, mendaki, dan selancar. Dari nama lokasinya saja, yakni Pantai Kuta dan Tanjung, sudah sangat memungkinkan megaproyek pariwisata Lombok ini untuk menyaingi Bali. Sebab, namanya sama persis dengan dua kawasan wisata internasional di Bali, yakni Pantai Kuta (di Badung) dan Tanjung Benoa (Badung).
Megaproyek pariwisata Lombok ini akan memiliki daerah alami yang menghadap ke laut sepanjang 17 km lebih. Ini akan mendukung fasilitas marina, selain hunian mewah dan resort yang dikelola oleh jaringan pengelola berbintang lima. “Proyek ini (di Lombok) akan membuka banyak pekerjaan dan mendukung sejumlah sektor ekonomi penunjang,” terang Ali Abdullah yang juga menjabat Regional Executive Director Emaar International Indonesia, Aljazair, dan Libya. “Sejalan dengan sejumlah praktek lingkungan terbaik, proyek Lombok akan menjajaki sejumlah kemajuan baru untuk mengembangkan proyek dan menciptakan pusat wisata yang berkelanjutan,” imbuhnya. Sebelum merambah Indonesia, di Arab Saudi, Emaar Properties telah mengembangkan King Abdullah Economic City senilai 26,6 miliar dolar AS, proyek swasta terbesar di kawasan itu. Emaar Properties juga mengembangkan Burj Dubai, bangunan dan struktur mandiri tertinggi di dunia, juga membangun The Dubai Mall (salah satu tujuan belanja dan hiburan terbesar di dunia).

Portofolio Emaar Properties saat ini mencakup beberapa negara: Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Yordania, Suriah, Libanon, Maroko, Mesir, Turki, Libya, Aljazair, India, Pakistan, Indonesia, hingga Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Kanada. Emaar Properties memegang 30 persen ekuitas di Dubai Bank, yang bergerak di bidang ritel dan bank umum. Emaar Properties juga pemegang saham terbesar di Amlak Finance, perusahaan pemberi kredit rumah Islami terkemuka di UAE. Sementara itu, Direktur Utama (Dirut) BTDC, I Made Mandra, membenarkan rencana pengembangan megaproyek pariwisata Lombok ini. Menurut Mandra, saat ini tengah dilakukan studi kelayakan yang diperkirakan akan selesai, September 2008 mendatang. Studi kelayakan itu, kata Mandra, akan diikuti pembentukan perusahaan patungan antara Emaar Dubai dengan BTDC. “Diperkirakan, peletakan batu pertamanya akhir tahun 2008 atau awal 2009,” ungkap Mandra yang dikonfirmasi NusaBali secara terpisah di Nusa Dua, Kuta Selatan, Badung, Selasa sore.
Mandra memperkirakan kawasan pariwisata mega di Lombok itu sudah bisa dinikmati tamu, 3 tahun mendatang. Kawasan peristirahatan nan mewah itu nantinya akan diisi vila, dan hotel berbintang lima ke atas. Sedangkan pangsa pasar utamanya adalah wisatawan Timur Tengah. Diharapkan, dengan selesainya pembangunan dan pengoperasian Bandara Internasional di Penujak, Lombok Tengah, wisatawan dari Timur Tengah bisa langsung terbang dari negaranya ke Lombok. Apalagi, jarak bandara internasional ke lokasi wiasata mewah yakni Pantai Kuta dan Tanjung di Lombok itu hanya sekitar 16 km. “Wisatawan Timur Tengah tidak melulu orang Arab. Di Dubai banyak warga negara asing (non-Arab) yang bekerja di sana,” beber Mandra. Ditambahkan Mandra, luas lahan yang akan dikembangkan jadi kawasan wisata elite di Lombok seluas 1.175 hektare. Jadi, luasnya 4 kali kali luas kawasan BTDC Nusa Dua, Bali. Hal itu sangat memungkinkan untuk pengembangan kawasan dimaksud dalam jangka panjang. Pada tahap awal, kata Mandra, akan dibangun dua hotel berbintang dan beberapa vila. Kemudian, dalam tempo 10–20 tahun, kawasan wisata elite Lombok tersebut akan terus berkembang seiring dengan kondisi pasar. Pasalnya, kata Mandra, dalam jangka panjang, ditargetkan berdiri sekitar 6.000 hingga 10.000 vila di kawasan elite tersebt. Jika satu kamar vila diurus 5-6 orang, berarti nantinya akan ada puluhan ribu karyawan yang akan menangani kamar-kamar tersebut. Soal persaingan antara kawasan baru di Lombok itu dengan Bali, menurut Mandra, kecil kemungkinannya. Sebab, masing-masing daerah punya ciri khas. Bali memiliki kebudayaan yang berbeda dengan Lombok.
“Dibukanya kawasan itu kelak, wisatawan yang sudah menikmati Bali bisa ke Lombok, demikian pula sebaliknya. Jadi, waktu tinggal wisatawan bisa lebih lama. Semakin banyak orang berwisata, semakin baguslah,” tandas Mandra. Namun, satu kendala bagi Bali untuk menggaet wisatawan manca negara dalam jangka panjang jika tak ingin disalip ‘tetanganya’ itu, adalah masalah bandara. Sekadar perbandingan, Bandara Internasional Penujak (Lombok) akan dibangun dengan panjang runway (landas pacu) 4.500 meter. Sedangkan Bandara Internasional Ngurah Rai Tuban, yang jadi kebanggaan Bali, hjanya punya runway 3.000 meter. Dengan kondisi seperti ini, tidak mungkin bagi Bandara Ngurah Rai melayani pesawat berbadan besar sepertu Air Bus. Sebaliknya, Bandara Internasional Penujak bisa melayani pesawat berbadan besar yang mengangkut lebih dari 500 penumpang. Kondisi ini sudah lama dikeluhkan kalangan pelaku pariwisata di Bali. Wacana untuk pengembangan Bandara Internasional Ngurah Rai pun sudah digaungkan sejak 3 tahun silam, ketika isu pembangunan Bandara Internasional Penujuk mulai merebak pada 2005. Setahun lalu, Wapres Jusuf Kalla sudah menginstruksikan agar runway Bandara Ngurah Rai diperpanjang menjadi 4.000 meter dari semula 3.000 meter. Namun, sesuai rencana pengembangan yang dijalankan pihak Angkasa Pura I Pusat, runway Bandara Ngurah Rai tidak akan diperpanjang sebelum tahun 2025. Dengan dibangunnya bandara internasional di Lombok Tengah, sebagian wisman kemungkinan akan langsung mendarat di Lombok, tanpa singgah ke Bali. Apalagi, di wilayah NTB banyak kawasan wisata menarik. Dari sana, turis bisa melihat Bali, termasuk keberadaan Pura Narmada.
Kalau 10 persen saja wisman yang mendarat di Lombok tidak meneruskan perjalanan ke Bali, berarti pemasukan Bali akan hilang sekitar 170 juta dolar AS per tahun. Asumsinya, sebagaimana pernah diungkapkan Menbudpar Jero Wacik beberapa waktu lalu, sekitar 1,7 juta turis asing per tahun diharapkan datang ke Bali. Hitung-hitungan bisnis, turis asing yang masuk ke Bal rata-rata memberi pemasukan 1.000 dolar AS per orang, dari belanja, penginapan, dan lainnya.

Saran dan Rekomendasi
Adanya pembangunan dan pengembangan daerah Pariwisata di Lombok memang dapat memberikan banyak dampak positif bagi kesejahteraan masayarakat. Dengan berkembangnya kepariwisataan di Lombok maka perekonomian daerah tersebut akan semakin meningkat sehingga dengan meningkatnya perekonomian, kesejahteraan juga akan cenderung meningkat. Namun, pembangunan dan pengembangan daerah pariwisata mesti dilaksanakan dengan seefektif mungkin agar tidak hanya menguntungkan pihak investor atau pihak asing, tapi juga menguntungkan bagi bangsa dan bagi kesejahteraan masyarakat. Semoga proyek tersebut dapat berjalan dengan sebaik mungkin dan tidak mengalami hambatan-hambatan. Selamat Datang di Pulau Lombok (The Virgin Island).










DAFTAR PUSTAKA
Anonim________2005. Lombok Tengah Guide [Online]. Tersedia: httt://www.googlesearch+lomboktengah.com@email.php.1829.2005.co. [30 mei 20009].
Anonim________2005. Arahan Pengambangan Lombok[Online]. Tersedia: http://www.bappedantb.org/index.php?act=alasutan.mainsury00@2:57am. [30 mei 20009].
Zainul, M. 1993. Cacing Nyale sebagai Indikator Pencemara Air Laut [online]. Tersedia:www.googlesearch+zainulmuttakin+cacingnyalelombok.php.html. [29 mei 2009].
www.Googlesearch.com

PENGARUH PEMBANGUNAN PENANGKARAN BURUNG MALEO

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Sulawesi merupakan pulau dengan kekayaan spesies endemik yang tinggi. Jumlah spesies endemik yang berada di pulau ini kedua terbesar di Indonesia setelah Irian Jaya. Tolitoli merupakan salah satu dari tempat penangkaran burung maleo yang terletak di suatu pulau yang bernama pulau matop atau tanjung matop. Pulau ini terletak di daerah desa pinjan, kecamatan baoulan, kabupaten tolitoli, provinsi Sulawesi tengah, Secara geografis kawasan ini terLetak antara 1° 19' sampai 1° 22' LU dan 121° 5,5' sampai 121° 8' BT.
Burung maleo (Macrocephalon maleo) merupakan salah satu burung endemik yang ada di Sulawesi. Tidak ada data yang pasti mengenai jumlah populasi burung maleo saat ini. Populasi burung ini diduga mengalami penurunan akibat degradasi habitat dan perburuan telur oleh manusia.
Suaka Margasatwa Pinjan-Tanjung Matop (SMPTM) merupakan salah satu kawasan yang telah ditetapkan pemerintah untuk melindungi burung maleo. Kawasan ini terletak di Kabupaten Toli-toli dan merupakan satu dari delapan kawasan konservasi yang menjadi prioritas utama perlindungan burung maleo di Sulawesi Tengah (Butchart & Baker, 1998).
Di sebelah utara kawasan SMPTM terdapat hamparan pasir pantai tempat burung Maleo bertelur. Pantai tersebut mempunyai panjang sekitar 2 km dengan lebar berkisar antara 10-25 m dan terbagi menjadi dua bagian yaitu Tanjung Matop dan Tanjung Tangkudan. Panjang masing-masing pantai kurang lebih 1 km.
Sejak tahun 1989 di SMPTM telah dibangun kandang penetasan. Pembangunan kandang ini tidak dimaksudkan untuk menangkarkan maleo, tetapi lebih kepada upaya perlindungan telur maleo baik dari predator maupun dari kondisi fisik lapangan tempat bertelurnya yang sempit, sehingga mudah terendah air. Dengan pembangunan kandang tersebut diharapkan banyak anak maleo yang bisa diselamatkan. Permasalahan yang dihadapi di kandang penetasan ini adalah daya tetasnya yang rendah.
Daya tetas sangat dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban tanah serta kedalaman dari sarang, oleh karena itu upaya untuk mengetahui suhu dan kelembaban serta kedalaman sarang di habitat asli maleo sangat diperlukan sebagai patokan dalam mengelola penetasan di kandang penetasan.
Di pulau matop ini sengaja dibuat tempat penangkaran burung maleo karena tempat ini sangat strategis untuk kelangsungan tempat hidup burung maleo. Tempat ini juga jauh dari tempat pengukiman penduduk sehingga sangat jauh dari dari pemburuan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Namun kenyataannya sekarang tempat ini digunakan oleh penduduk sebagai tempat untuk menghasilkan penghasilannya setiap hari, jadi banyak penduduk yang berbondong-bondong datang ketempat ini guna unutuk mencari penghasilannya.
Luas area dari pulau ini ± 30.765,7 Ha, namun yang digunakan untuk penangkaran burung maleo sekitar 1.612,5 Ha sisanya digunakan penduduk untuk membangun perumahan dan tempat pertanian. Sehingga sekarang banyak penduduk yang bermukim di tempat ini, banyak penduduk yang berdatangan mulai dari penduduk daerah sekitar Jawa, Kalimantan, Makassar dan penduduk asli dari Tolitoli itu sendiri yang mengakibatkan terjadinya pencampuran adat istiadat di daerah ini, tapi yang mendominasikan penduduk di daerah ini adalah suku Bugis.
Pada waktu dulu tempat ini hanyalah sebuah pulau yang tak dikenal oleh masyarakat luar pada umumnya, namun setelah dikeluarkan surat keputusan dari menteri pertanian No.: 445/Kpts/UM/5/1981, tanggal 21 Mei 1981 ditetapkan sebagai kawasan suaka margasatwa yang disahkan oleh presiden Soeharto. Sehingga membuat pulau matop ini menjadi dikenal oleh masyarakat lainnya, pulau ini juga di gunakan oleh masyarakat setempat sebagai tempat pariwisata karena alam dan Susana pantai yang begitu indah.
Dulu guna dari pulau ini hanya untuk sebagai tempat penangkaran burung maleo, tapi lama kelamaan tempat ini juga digunakan untuk tempat perlindungan beberapa jenis penyu seperti Penyu hijau (Chelonia mydas), Penyu sisik (Eretmochelys imbriCata), dan Penyu belimbing. Sehingga pemerintah mengambil keputusan untuk menjadikan tempat ini sebagai tempat perlindungan berbagai hewan khas Sulawesi.

Di pulau ini terdapat berbagai macam flora dan fauna antara lain :
 Flora
Keadaan flora di SM. Pinjan/Tanjung Matop terdiri dari:
1. Hutan pantai, Terdapat jenis-jenis pohon Ketapang (Terminalia catappa), Pandan (Pandanus tectorius dan Pandanus littoralis), Kangkung darat (Ipomoea sp.) dan merupakan lokasi bertelur burung Maleo.
2. Hutan hujan pegunungan, Terdiri dari jenis-jenis yang mendominasi kawasan hutan di SM. Pinjan/Tg. Matop antara lain: Kayu hitam (Diospyros sp.), Palapi (Heritiera sp.), Uru (Elmerillia sp.), Dama-dama (Canarium.sp.), Damar (Agathis sp.), Jambu-jambuan (Eugenia sp.), Palem kambuno (Palmaceae), kayu pasokan (Shorea sp.) tumbuh dekat pantai pada tebing-tebing tinggi.
 Fauna
Sedikitnya terdapat beberapa spesies satwa endemik sepert: Anoa (Bubalus sp.), Babirusa (Babyroussa babirusa), Monyet hitam (Macaca sp.), Kus-kus (Phalanger sp.), Musang abu-abu, Biawak (Veranus salvator), satwa lain didaerah pantai terdapat Kura-kura Penyu sisik (Celonle midas), Penyu hijau, Penyu belimbing (Dermochelys corlaceae), Sedangkan satwa burung yang dijumpai yaitu Elang laut coklat, Elang hitam, Rangkong Sulawesi (Aceros cassidix), Kum-kum besar (Ducula sp.), Tekukur (Streopella sp.), Pitta Sulawesi (Pitta celebensis) serta burung Maleo (Macrocepholon maleo) juga burung-burung air dirawa-rawa air asin Bangau putih (Egretta sp.), Pecuk padi dan Pecuk ular (Anhinga molanogaster) dan Srigunting 2 raket (Dicrurus sp).
Pulau ini memang digunakan sebagai tempat penangkaran burung maleo yang hampir punah, namun kenyataannya tempat ini dari tahun ketahun burung maleo yang ada di pulau ini semakin berkurang karena banyaknya masyarakat yang belum sadar akan pentingnya pelestarian ini dan penjagaan atau keamanan belum terlalu ketat atau belum terlalu banyak petugas keamanan yang bertugas di daerah ini sehingga mengakibatkan banyak masyarakat yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan kesempatan ini guna mengambil telur-telur burung maleo yang ingin ditetaskan.
Telur dari burung maleo sangatlah besar sekitar 8 kali besarnya telur ayam, serta nilai ekonomis dari telur burung maleo kalau dijual di pasaran seharga Rp. 10.000,00, ini yang mengakibatkan banyak masyarakat yang tidak bertanggung jawab untuk menjual telur burung maleo dengan cara mencurinya sehingga mereka tapat menjualannya kepasaran dengan harga yang mahal, telur maleo juga sangat enak dan lezat dikonsumsi serta telur ini juga banyak manfaatnya antara lain dapat mengobati penyakit, dapat meningkatkan kejantanan pria dan lain sebagainya.
Berdasarkan analisis diatas sehingga penulis mencoba mengkaji lebih jauh tentang dampak di adakan atau dibangunnya tempat penangkaran burung maleo yang merupakan salah satu tempat dari beberapa banyak tempat pengkaran burung maleo yang ada di Sulawesi.

B. Rumusan masalah
Adapun masalah yang penulis hadapi yaitu
1. Bagaimana dampak dari diadakannya atau dibangunnya tempat penangkaran burung maleo
2. Apa pengaruhnya bagi masyarakat dengan diadakannya tempat pengkaran burung maleo
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui dampak dari diadakannya atau dibangunnya tempat penangkaran burung maleo
2. Untuk mengetahui pengaruhnya bagi masyarakat dengan diadakannya tempat pengkaran burung maleo
D. Metologi
Dalam penuisan hasil observasi ini, penulis menggunakan beberapa metode, yaitu :
1. Observasi langsung
Observasi ini dilakukan dengan wawancara dengan teman saya yang berada di daerah pinjan yang bernama Andi Asril.
Observasi ini dilakukan pada bulan Mei dan bulan Juni, yang berada di daerah pinjan atau pulau matop

2. Pustaka
Penulis mengamil informasi dari beberapa buku-buku tentang pelestarian hewan dan tentang burung maleo itu sendiri
3. Browsing internet
Dengan cara engambil informasi diinternet















BAB 2
HASIL PENGAMATAN

1. Hasil pengamatan
Perhatikanlah table berikut ini
Telur Jumlah telur burung maleo pada tahun 2005-2007 Jumlah telur burung maleo pada tahin 2008 sampai sekarang
Telur burung maleo ± 1.234 pertahun ± 765 pertahun

2. Hasil wawancara
Berdasarkan wawancara yang dilakkan oleh teman saya di dapatkan beberapa hal diantaranya :
Upaya pemerintah dalam pengatasi tidak terjadinya pembruan burung maleo sehingga burung maleo bisa tumbuh dengan pesat












BAB 3
PEMBAHASAN

A. Permasalahan yang terjadi di tanjung matop
Seperti yang telah dijelaskan pada bab yang sebelumnya bahwa tanjung matop merupakan salah satu tempat penangkaran burung maleo yang ada di Sulawesi, tempat ini juga merupakan salah satu tempat pariwisata yang sering dikuncungi oleh beberapa masyarakat yang berada di luar daerah pinjan.
Banyak para peneliti datang ketempat ini guna meneliti diantaranya
1. Penelitian dibidang Biologi seperti penelitian burung maleo
2. Penelitian dibidang ekologi
3. Penelitian dibidang geologi
4. Penelitian dibidang social budaya
Bukan Cuma para peneliti yang datang ketempat ini, banyak para siswa dan mahasiswa datang ketempat ini guna untuk melihat burung maleo yang hamper punah sekaligus mensosialisasi bagamana cara melestarikan burung maleo tersebut.
Banyak masalah yang terjadi di daerah ini seperti
a. Penurunan jumlah burung maleo
Dari tahun ketahun, dari data yang penulis temukan bahwa jumlah burung maleo ini semakin berkurang ini disebabkan oleh ada sebagian masyarakat yang kurang sadar dengan pentingnya kelestarian sehingga mengambil tanpa pemberitahuan dari petugas setempat atau mencuri telur tersebut guna dijual atau dikonsumsi, karena dilihat dari nilai ekonomisnya harga dari telur burung maleo sekitar Rp. 10.000,00.
Namun ada juga yang menyebabkan dari penurunan jumlah burung maleo tiap tahunnya yaitu karakteristik fisik sarang burung maleo tidak mendukung, baik itu kedalaman lubangnya maupun suhunya.
 Kedalaman lubang sarang burung maleo
Kedalaman lubang pengeraman di lokasi penelitian berkisar antara 40-100cm dengan rata-rata 65,45 cm (± 10,25 cm). Dengan demikian kedalaman masih berada pada kisaran normal, karena diketahui bahwa kedalaman letak telur burung Maleo bervariasi antara 10-15 cm dan 80-100 cm, tetapi kebanyakan pada kedalaman 30-50 cm (Jones, et.al., 1995).
Telah diketahui bahwa ukuran dan kedalaman sarang tergantung pada tinggi kedalaman air (Water Table), jarak dari sumber panas, suhu tanah, struktur tanah, kondisi cuaca beberapa hari sebelumnya, frekuensi penggunaan dan umur sarang (Jones et.al., 1995). Terlihat bahwa pada waktu penelitian dilakukan kedalaman letak telur relatif lebih dalam dibandingkan kedalaman pada umumnya. Hal ini disebabkan pengukuran dilakukan saat musim hujan belum berakhir. Kondisi ini terjadi karena Maleo meletakkan telurnya lebih dalam ketika suhu tanah turun setelah hujan lebat dan lebih dangkal setelah masa kekeringan (Dekker, 1988). Setelah turun hujan tanah menjadi basah dan mempunyai suhu yang rendah, oleh karena itu Maleo akan menggali lubang lebih dalam untuk menemukan suhu yang cocok bagi penetasan.
Kedalaman letak telur berkaitan juga dengan fluktuasi suhu tanah. Suhu sarang di pantai sangat berbeda antara siang dan malam. Menurut Gunawan (2000) pada siang hari, semakin dalam lubang semakin rendah suhunya,
sedangkan pada malam hari sebaliknya. Namun pada kedalaman 60 cm atau lebih
perbedaan suhu ini relatif kecil, baik siang maupun malam. Berdasarkan fakta
tersebut, diduga induk maleo meletakan telurnya pada kedalaman 50 cm atau
lebih bertujuan mendapatkan suhu yang relatif stabil. Dengan demikian letak 4
telur pada kedalaman rata-rata 65.45 cm dilokasi penelitian diperkirakan akan
memberi keuntungan berupa terjaganya suhu pada kisaran normalnya yaitu antara
32-390C.
 Suhu sarang burung maleo
Dari hasil pengukuran, suhu tanah pada lubang pengeraman di lokasi penelitian berkisar antara 31-330C dengan rata-rata 32,220C (±0,870C) suhu ini masih berada dalam kisaran normal penetasan telur Maleo. Suhu tanah untuk menetaskan telur Maleo berkisar antara 32-390C (Jones, et.al., 1995).
Pengukuran menunjukkan bahwa suhu tanah di lokasi penelitian berada pada nilai terendah dari kisaran normal penetasan Maleo. Kondisi ini disebabkan pengukuran dilakukan pada waktu musim hujan yang masih belum berakhir, sehingga tanah di lokasi cenderung basah. Radiasi matahari yang sampai ketanah sebagian akan diserap dan sisanya akan dipantulkan. Energi yang diserap akan diubah menjadi panas dan dihilangkan dengan 3 cara, yaitu sebagian lewat penguapan air, sebagian digunakan untuk memanaskan tanah dan udara, dan sebagian lagi akan diradiasi ulang. Untuk tanah yang basah, kira-kira setengah
dari energi yang diserap akan digunakan untuk menguapkan air, akibatnya suhu
tanah akan lebih dingin jika dibandingkan dengan tanah yang tidak basah (Russel,
1961).
Rendahnya suhu tanah sarang pengeraman ini berkaitan juga dengan kedalaman sarang semakin jauh kedalaman tanah, maka suhu akan semakin rendah. Hal ini disebabkan berkurangnya konduksi panas dari permukaan tanah (Russel, 1961). Maleo yang berada di SMPTN meletakkan telurnya lebih dalam, yaitu pada kedalaman rata-rata 65,45 cm, dibandingkan dengan penelitian lain yang berkisar antara 30-50 cm. Lebih dalamnya peletakan telur yang terdapat di lokasi ini menguntungkan dalam mempertahankan suhu normal bagi penetasan telur Maleo, karena letak telur yang berada pada kedalaman lebih dari 50 cm akan mempunyai suhu yang lebih konstan baik siang maupun malam (Gunawan, 2000). Jika rendahnya suhu tanah ini terus berlangsung bukan disebabkan oleh musim, maka dapat diduga bahwa pengeraman di lokasi penelitian relatif lebih 5 lama. Semakin tinggi suhu, maka masa pengeraman akan semakin cepat (Dekker,1988)
b. Banyaknya hutan yang terdegradasi
Banyaknya hutan yang di rusak oleh masyarakat guna untuk memuaskan diri mereka, hutan mereka rusak guna untuk memperluas daerah ini darah pertanian dan daerah pemukiaman, karena di daerah ini dari tahun ketahun jumlah penduduknya semakin manambah soalnya banyak penduduk atau masyarakat dari luar daerah ini datang untuk mencari nafkah dan pengasilan tetap. Sehingga banyak hutan yang dirusak guna untuk membuat pemukiman baru.
Sekarang daerah atau kawasan ini hutannya tidak seperti dulu lagi yang begitu indah dipandang, sejuk dan menawan. Namun kawasan ini tidak seperti itu lagi, yang ada pegunungan yang ada di daerah pulau matop ini kebanyakan pepohonan hasil pertanian seperti cengkeh dan cocoa.
Sekarang ini hutan diganti oleh beberapa pepohonan pertanian untuk melindungi keindahan dari pulau matop ini, namun masih ada yang memiliki kawasan hutan yang sangat indah yaitu dikawasan tempat penangkaran burung maleo atau tempat pelestarian beberapa hewan lainnya.
c. Banyaknya fauna yang hilang
Fauna di tanjung matop atau pulau matop sering hilang dikarenakan banyak parah penduduk atau masyarakat yang mengambil sembunyi-sembunyi fauna yang ada di kawasan ini dengan cara mencurinya untuk dijual demi memenuhi kebutuhan hidunya, banyak fauna yang sudah terjual oleh para pencuri namun pemerintah sekarang belum bisa mengatasi permasalahan tersebut, pemerintah belum bisa menambah karyawan guna untuk keamanan di kawasan ini dikarenakan banyak karyawan yang tidak mau dengan alasan tempatnya yang sangat terpencil.
d. Kerusakan hutan mangrove
Hutan-hutan yang berada di dekat pantai sudah mulai musnah karena penduduk di sekitar mempergunakan hutan tersebut sebagai kayu api atau kayu dari hutan tersebut dijual dengan harga yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, sekarang hutan ini tidak berfungsi lagi sebagai tempat pemanahan ombak yang besar datang, tapi hanya digunakan untuk kebutuhan manusiawinya sendiri.
e. Kerusakan habitat laut
Banyak habitat laut yang rusak karena orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan cara membomnya dan mengambil ikan-ikan yang ada di dalamnya sehingga hutan-hutan yang ada dilaut menjadi rusak.
Sekarang ini laut-laut yang ada disekitar pulau matop tidak seindah dulu, ini disebabkan karena orang-orang yang sangat rakus dan serakah yang hanya mementingkan kebutuhan hidupnya sendiri dengan melakukan cara yang tidak halal.



B. Dampak akibat diadakannya tempat penangkaran burung maleo

Diadakannya tempat penangkaran burung maleo akan menimbulkan berbagai masalah bagi masyarakat daerah pinjan atau ppulau matop secara umum, terutama. Berikut saya sampaikan beberapa analisis yang akan terjadi:
a. Dampak sosial
 Menjadikan masyarakat bergotong royong
Masyarakat disni pada umumnya sebelum diadakan pembangunan penangkaran burung maleo belum ada yang mempunyai rasa bergotong royong, masyarakat disni hanya mempunyai rasa individualism yang sangat tinggi sehingga mereka tidak mau peduli dengan apa yang tetangganya lakukan, namun setelah di bangunnya tempat penangkaran burung maleo maka rasa kegorong royogan itu sudah mulai ada, sebab banyak masyarakat yang berada di daerah-daerah lain berdatangan dan membawah adat istiadat mereka sendiri, sehingga menimbulkan rasa kegotong royongan mereka.
 Makin bertambahnya rasa kebersamaan
Masyarakat disini walaupun mereka memiliki berbagai macam suku yang ada tapi untuk mengetahui rasa kebersamaannya mereka sangatlah tinggi, seperti kalau diadakan kerja bakti atau membersihkan desa mereka di daerah maka dalam satu desa itu melakukan pembersihan desa tanpa ada rasa cemburu sedikitpun anatara satu dengan yang lainnya.
 Pendidikan masih sangat kurang
Pendidikan untuk di daerah ini masih sangat minim sekali sebab masyarakat disni hanya mementingkan anaknya itu untuk bisa mendapatkan uang demi kebutuhan sehari-hari, karena fasilitas sekolah disini hanya sampai SD saja dan untuk melanjutkan kependidikan yang lebih tinggi lagi masyarakat sangat berpikir untuk mengeluarkan uangnya demi pendidikan.
b. Dampak ekonomi
 Meningkatnya pendapatan daerah
Seperti yang sudah atau telah disampaikan oleh penulis tadi diatas bahwa pulau matop merupakan tempat di adakannya pelestarian burung maleo sekaligus merupakan tempat pariwisata buat para pengunjung yang mau datang ketempat ini, namun pengunjung yang mau datang ketempat ini tidak gratis hanya bayar Rp. 5.000,00 sekali masuk dalam penangkaran burung maleo, sehingga dapat memperbayak pendapat atau menambah pemasukan daerah.

 Meningkatnya pendapatan masyarakat
Di dalam pulau ini bukan cuma pemerintah saja yang bertambah pendapatan setiap tahunnya, masyarakat disni juga yang mengambil kesempatan untuk memperoleh penghasilan dari diadakannya tempat pengkaran burung maleo, seperti banyak masyarakt disini berjualan di pinggiran pantai, sebagai penerima jasa guna untuk membantu menyeberangi lautan para pengunjung dan sebagainya.
c. Dampak ekologi
 Banyaknya hutan yang rusak
Banyaknya hutan yang di rusak oleh masyarakat guna untuk memuaskan diri mereka, hutan mereka rusak guna untuk memperluas daerah ini darah pertanian dan daerah pemukiaman, karena di daerah ini dari tahun ketahun jumlah penduduknya semakin manambah soalnya banyak penduduk atau masyarakat dari luar daerah ini datang untuk mencari nafkah dan pengasilan tetap. Sehingga banyak hutan yang dirusak guna untuk membuat pemukiman baru.
Sekarang daerah atau kawasan ini hutannya tidak seperti dulu lagi yang begitu indah dipandang, sejuk dan menawan. Namun kawasan ini tidak seperti itu lagi, yang ada pegunungan yang ada di daerah pulau matop ini kebanyakan pepohonan hasil pertanian seperti cengkeh dan cocoa.
Sekarang ini hutan diganti oleh beberapa pepohonan pertanian untuk melindungi keindahan dari pulau matop ini, namun masih ada yang memiliki kawasan hutan yang sangat indah yaitu dikawasan tempat penangkaran burung maleo atau tempat pelestarian beberapa hewan lainnya


 Rusaknya habitat laut
Banyak habitat laut yang rusak karena orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan cara membomnya dan mengambil ikan-ikan yang ada di dalamnya sehingga hutan-hutan yang ada dilaut menjadi rusak.
Sekarang ini laut-laut yang ada disekitar pulau matop tidak seindah dulu, ini disebabkan karena orang-orang yang sangat rakus dan serakah yang hanya mementingkan kebutuhan hidupnya sendiri dengan melakukan cara yang tidak halal.
 Sampah-sampah penduduk yang makin lama makin membesar
Sampah yang berada disini atau yang berada pada pulau ini belum memiliki tempat yang layak, sehinnga mengakibatkan masyarakat disini hanya membuat sampah disuatu tempat yang mengakibatkan sampah tersebut menjadi menumpuk, namun masyarakat disni juga sudah berusaha agar sampah tersebut tidak terjadi penumbukan dengan cara membakarnya, tapi peranan pemerintah disini belum ada yang membantu mengatasi penumpukan sampah tersebut.














BAB 4
PENUTUP

A. Saran
Pemerintah kabupaten Tolitoli sudah sangat berusaha dalam mengembangkan tempat penangkaran burung maleo namun masih ada yang masih di ingin cepat-cepat ditindak lanjuti. Penullis sangat menginginkan pemerintah kabupaten Tolitoli ingin diantaranya :
 Menambah penjagaan atau keamanan yang ketat untuk tempat penangkaran burung maleo agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti pencurian telur burung maleo, fauna yang sering hilang dan lain sebagainya
 Memberikan sosialisasi kepada masyarakat agar masyarakat itu tau pentingnya pelestarian itu
 Membantu masyarakat untuk mengatasi terjadinya penumpukan sampah yang ada di pulau matop
 Meningkatakan pengawasan di daerah-daerah hutan agar hutan di pulau ini tidak menjadi rusak oleh masyarakar yang serakah yang tidak bertanggung jawab
 Meningkatkan pengawasan di daerah laut agar terpeliharanya kelestarian laut yang ada di sekitar pulau matop atau tanjung matop.
 Membangun sekolah-sekolah untuk masalah pendidikan didaerah ini






B. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan penulis dapat menyimpulkan bahwa:
 Tempat diadakannya penangkaran burung maleo sangatlah berdampak, baik itu berdampak positif maupun dampak negative, penulis lagi tidak menjelaskan lagi dampak-dampaknya karena penulis sudah menjelaskan pada bab sebelumnya
 Pengaruhnya bagi masyarakat karena diadakannya tempat ini antara lain meningkatnya kegotong royongan, meningkatkan rasa kebersamaan an lain sebagainya.















LAMPIRAN

ANALISIS DAMPAK KEGIATAN PARIWISATA DI GILI LAMPU DI DESA SAMBELIA KECAMATAN SAMBELIA KABUPATEN LOMBOK TIMUR

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Pulau Lombok merupakan pulau yang memiliki banyak daerah wisata yang banyak dikunjungi oleh para wisatawan baik itu wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Namun karena kurangnya promo membuat daerah wisata yang ada di pulau Lombok jarang di kenal oleh para wisatawan. Pulau Lombok dikenal sebagai daerah yang memiliki keindahan pantainya dan pulau kecilnya (Gili) oleh para wisatawan, keberadaan daerah wisata ini memberikan pengaruh bagi masyarakat sekitar baik itu pengaruh positif maupun negatif.
Di pulau Lombok ada beberapa daerah wisata yang ramai dikunjungi oleh para wisatawan salah satu diantaranya adalah pantai senggigi yang ada di wilayah Lombok Barat dan pantai kuta di Lombok Tengah, kedua pantai ini ramai akan pengunjung karena keindahan pantainya. Masih banyak daerah wisata yang jarang diketahui oleh para wisatawan karena kurangnya promo untuk daerah wisata tersebut, seperti daerah wisata yang ada di wilayah Lombok Timur yaitu pantai lampu atau lebih tenar masyarakat sekitar menyebutnya dengan “ Gili Lampu ”.
Gili Lampu ini sangat ramai akan pengunjung apalagi pas hari-hari libur, daerah wisata ini terkenal dengan keindahan pantainya yang utama, rerimbunan pepohonan yang ada di pinggir pantai membuat suasana pantai semakin dinikmati oleh para pengunjung. Dari hasil observasi ke daerah lokasi melalui bantuan teman disana, dari hasil data pengunjung, daerah ini dari tahun ke tahun jumlah pengunjung semakin meningkat apalagi setelah daerah ini dijadikan sebagai salah satu tempat wisata yang ada di wilayah Lombok Timur.
Keberadaan daerah wisata Gili Lampu ini memberikan pengaruh terhadap lingkungan sekitar dan masyarakat yang ada disekitar daerah lokasi dengan makin meningkatnya jumlah pengunjung tadi, inilah yang melatarbelakangi makalah ini disusun.

1.2. Rumusan Masalah
Bagaimana kegiatan pariwisata di Gili Lampu memberikan pengaruh/dampak terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.

1.3. Tujuan Penulisan
Mengetahui kegiatan pariwisata di Gili Lampu memberikan pengaruh/dampak terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.

1.4. Manfaat Penulisan
Sebagai bahan rujukan bagi PEMDA setempat untuk lebih memperhatikan kegiatan pariwisata yang ada di Gili Lampu.







BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sekilas informasi singkat tentang Pulau Lombok.
Pulau Lombok memiliki lokasi geografis di Asia Tenggara Koordinat 8.565° S 116.351° E Gugusan Pulau-pulau Kepulauan Kecil Sunda. Luas pulau 4,725 km². Tempat tertinggi adalah Rinjani (3,726 m). Pulau Lombok menjadi bagian dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Ibu kota provinsi, Mataram ada dipulau ini.
Secara demografis populasi penduduk berkisar 2,536,000 jiwa (data thn 2004) dengan kepadatan penduduk 537 jiwa/km². Penduduk pribumi bersuku Sasak. Tetapi di pulau Lombok terdapat beberapa suku pendatang dari berbagai daerah seperti suku Bali, Jawa, dan lainnya. Suku Sasak adalah penduduk asli yang menduduki pulau Lombok berjumlah sebanyak 2.6 juta orang (85% total penduduk Lombok). Mereka mempunyai hubungan dengan orang Bali dari segi
budaya dan bahasa.

Sejarah

Kerajaan Selaparang merupakan salah satu kerajaan tertua yang pernah tumbuh dan berkembang di pulau Lombok, bahkan disebut-sebut sebagai embrio yang kemudian melahirkan raja-raja Lombok. Posisi ini selanjutnya menempatkan Kerajaan Seiaparang sebagai ikon penting kesejarahan pulau ini. Terbukti penamaan pulau ini juga sering disebut sebagai bumi Selaparang atau dalam istilah lokalnya sebagai Gumi Selaparang.

Menurut Lalu Djelenga (2004), catatan sejarah kerajaan-kerajaan di Lombok yang lebih berarti dimulai dari masuknya Majapahit melalui exspedisi di bawah Mpu Nala pada tahun 1343, sebagai pelaksanaan Sumpah Palapa Maha Patih Gajah Mada yang kemudian diteruskan dengan inspeksi Gajah Mada sendiri pada tahun 1352.

Ekspedisi ini, lanjut Djelenga, meninggalkan jejak kerajaan Gelgel di Bali. Sedangkan di Lombok, dalam perkembangannya meninggalkan jejak berupa empat kerajaan utama saling bersaudara, yaitu Kerajaan Bayan di barat, Kerajaan Selaparang di Timur, Kerajaan Langko di tengah, dan Kerajaan Pejanggik di selatan. Selain keempat kerajaan tersebut, terdapat kerajaan-kerajaan kecil, seperti Parwa dan Sokong serta beberapa desa kecil, seperti Pujut, Tempit, Kedaro, Batu Dendeng, Kuripan, dan Kentawang. Seluruh kerajaan dan desa ini selanjutnya menjadi wilayah yang merdeka, setelah kerajaan Majapahit runtuh.

Di antara kerajaan dan desa itu yang paling terkemuka dan paling terkenal adalah Kerajaan Lombok yang berpusat di Labuhan Lombok. Disebutkan kota Lombok terletak di teluk Lombok yang sangat indah dan mempunyai sumber air tawar yang banyak. Keadaan ini menjadikannya banyak dikunjungi oleh pedagang-pedagang dari Palembang, Banten, gersik, dan Sulawesi.

Belakangan, ketika Kerajaan ini dipimpin oleh Prabu Rangkesari, Pangeran Prapen, putera Sunan Ratu Giri datang mengislamkan kerajaan Lombok. Dalam Babad Lombok disebutkan, pengislaman ini merupakan upaya dari Raden Paku atau Sunan Ratu Giri dari Gersik, Surabaya yang memerintahkan raja-raja Jawa Timur dan Palembang untuk menyebarkan Islam ke berbagai wilayah di Nusantara.


Proses pengislaman oleh Sunan Prapen menuai hasil yang menggembirakan, hingga beberapa tahun kemudia seluruh pulau Lombok memeluk agama Islam, kecuali beberapa tempat yang masih mempertahankan adat istiadat lama.

Geografis Lombok

Secara geografis, Pulau Lombok dan Pulau Bali memang terpisah. Batasnya jelas. Selat Lombok, yang membentang di sepanjang pesisir barat Pulau Lombok atau di pesisir timur Pulau Bali, menghubungkan kedua pulau kecil di wilayah Nusa Tenggara ini. Tetapi, dari sisi sejarah dan budaya, keduanya memiliki kedekatan khusus yang menjadikan Lombok dan Bali seperti dua saudara sekandung. Bahkan, sampai muncul istilah, di Lombok kita bisa menemukan Bali.

Kedekatan budaya Bali dan Lombok memang tidak dapat dipisahkan dengan sejarah kedua pulau bertetangga ini. Diawali dengan masuknya pengaruh paham Siwa-Buddha dari Pulau Jawa yang dibawa para migran dari kerajaan-kerajaan Jawa sekitar abad ke-5 dan ke-6 Masehi, sampai infiltrasi Kerajaan Hindu Majapahit yang mengenalkan ajaran Hindu-Buddha ke penjuru timur wilayah
Nusantara pada abad ke-7 M.

Sejumlah penanda masih terlihat jelas hingga saat ini. Di sejumlah tempat di Pulau Lombok dan Bali terdapat nama-nama desa yang mengadopsi nama tempat di Jawa. Sebut saja, Kediri, Pajang, ataupun Mataram, yang kini menjadi nama
ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat.


Pendatang asal Bali yang bermigrasi ke Lombok pada zaman kerajaan itu memanggil penduduk Sasak dengan sebutan semeton, yang berarti saudara. Sebaliknya, terhadap warga Bali dan etnis non-Sasak lainnya, masyarakat Sasak memberikan panggilan hormat, batur, yang berarti sahabat. Batur Bali berarti sahabat dari Bali, Batur Jawa bermakna sahabat dari Jawa.

Bahasa Bali-Lombok
Salah satu kedekatan budaya antara Lombok dan Bali lainnya adalah bahasa. Sebelum ramai didatangi beragam etnis, Pulau Lombok sudah dihuni masyarakat Sasak yang disebut sebagai penduduk asli. Ragam bahasa antara Lombok dan Bali hampir serupa, sama-sama bersumber dari bahasa Kawi dengan aksara Jawa Kuno.
Huruf aksara Sasak dan Bali 100 persen sama, hanacaraka-nya berjumlah 18. Ini berbeda dengan aksara di Jawa yang lebih banyak dua aksara. Bedanya, penulisan aksara Sasak lebih tegas dibanding aksara Bali.
Begitu juga dalam teknik pencatatan. Tradisi menulis di daun lontar dilakukan pujangga dan sastrawan di Bali dan Lombok. Teknik ini dilanjutkan dengan tradisi membaca naskah sastra, pepawosan dalam budaya Sasak dan mabebawos
dalam budaya Bali.
Dalam ritual upacara masyarakat Hindu di Lombok dikenal tradisi melantunkan tembang Turun Taun saat berlangsungnya upacara sakral memohon turunnya hujan. Upacara ini digelar di pura setempat menjelang datangnya musim tanam. Meskipun dilantunkan masyarakat Hindu, ragam bahasa dan lagunya jelas menunjukkan pengaruh Sasak, ditambah beberapa sisipan kata-kata bernuansa Islam. Sebait lagu ini, misalnya,
- Turun Taun Leq Gedong Sari
- Mumbul Katon Suarge Mulie
- Langan Dee Sida Allah Nurunang Sari
- Sarin Merta Sarin Sedana, yang intinya kira-kira bermakna "semoga Tuhan segera menurunkan hujan sebagai inti kebahagiaan".

Kata sangkaq dan kembeq (kenapa), lasingan, timaq (walau), aro (ah), kelaq moto (sayur bening), dalam bahasa Sasak, kata Mandia, antara lain juga diadopsi sebagai percakapan sehari-hari masyarakat Bali di Lombok.

Akulturasi kearifan
Akulturasi budaya antara penduduk lokal dan Bali serta Jawa juga terlihat dalam busana dan tradisi masyarakat. Misalnya, ikat kepala, yang dalam tata busana adat Sasak disebut sapuk (dipakai pria), mirip dengan destar dalam busana Bali.

Kebiasaan nebon, suami yang membiarkan rambutnya gondrong selama sang istri hamil, dikenal dalam tradisi Sasak dan Lombok. Rambut sang suami baru dipotong setelah istrinya melahirkan. Selama nebon, kegiatan rumah tangga ditangani suami. Kebiasaan ini dipertahankan dengan tujuan demi melahirkan generasi yang bibit, bebet, dan bobotnya berkualitas, juga kesehatan jasmani dan
rohaninya lebih baik.
Dulu, kalau mau berkunjung ke rumah seorang gadis, meskipun keduanya sama-sama keluarga Bali, sang pemuda harus bisa membacakan isi lontar Pesasakan, yang bahasa pantunnya murni menggunakan bahasa Sasak.
Akulturasi budaya juga terlihat dalam agama wetu telu. Kelompok penganut agama sinkretisme islam, hindu dan animisme. Penganut Wetu Telu mayoritas berdiam di Kampung Bayan, tempat di mana agama itu dilahirkan. Golongan besar Wetu Telu juga boleh didapati di Mataram, Pujung, Sengkol, Rambitan, Sade, Tetebatu, Bumbung, Sembalun, Senaru, Loyok dan Pasugulan.

2.2. Sekilas Informasi Singkat Tentang Lombok Timur

Keadaan Geografis
Kabupaten Lombok Timur terletak antara 161°-117° Bujur Timur dan 8°-9°Lintang Selatan, berbatasan dengan Kabupaten Lombok Barat dan Lombok Tengah di sebelah barat, Selat Alas di sebelah timur, Laut Jawa di sebelah utara dan Samudera Indonesia di sebelah selatan.
Luas wilayah Kabupaten Lombok Timur termasuk daerah pantai dihitung 4 mil dari garis pantai tercatat 2.679,99 km2, terdiri atas daratan seluas 1.605,55 (59,91%) dan lautan 1.074,33 km2 40.09%). Proporsi penggunaan lahan meliputi 28,34% (45.502 Ha) lahan sawah dan 71,66% (115.053 Ha) lahan kering.
Topografi wilayah menunjukkan penampakan miring dari utara ke selatan. Dibagian utara merupakan daerah pegunungan dataran tinggi kaki Gunung Rinjani. Sedangkan bagian tengah merupakan dataran rendah dan bagian selatan merupakan daerah berbukit-bukit. Daerah pantai membatasi wilayah dari bagian utara ke sebelah timur hingga wilayah bagian selatan. Ketinggian wilayah Kabupaten Lombok Timur bervariasi antara 0 m diatas permukaan laut pada daerah pantai sampai dengan 3.726 meter dpl (diatas permukaan laut) pada daerah pegunungan. Berdasarkan topografi,maka untuk kelerengan antara 0-2% atau daerah yang datar mencakup Kecamatan Jerowaru, Keruak, Labuhan Haji dan Kecamatan Pringgabaya dengan luas keseluruhan mencapai 25.760 Ha. Untuk wilayah dengan kelerengan antara 2-15% dan merupakan kriteria kelerengan dominan di Kabupaten Lombok Timur, mencakup wilayah Kecamatan Sakra, Sakra Barat, Sakra Timur, Selong, Sukamulia, Suralaga, Terara, Montong Gading, Sikur, Masbagik, Pringgasela, Aikmel, Wanasaba, Suela dan Kecamatan Sambelia dengan luas keseluruhan wilayah sekitar 96.763 Ha. Sedangkan untuk wilayah dengan kelerengan 15-40% mencakup sebagian wilayah Kecamatan Suela dan sebagian wilayah Kecamatan Sembalun, adapun untuk wilayah yang paling curam dengan kelerengan >40% meliputi daerah Pegunungan Rinjani yang ada di Kecamatan Sembalun dengan luas areal sekitar 13.810 Ha.
Jenis tanah di Kabupaten Lombok Timur secara umum terdiri atas jenis Aluvial, Regosol, Grumosol, Mediteran dan Asosiasi Litosol dan Litosol Coklat kemerahan. Adapun penyebaran jenis tanah berdasar kan wilayah kecamatan yang ada diperoleh gambaran sebagai berikut: Tanah jenis Grumosol tersebar di Kecamatan Keruak, Jerowaru, Terara, Montong Gading, Sikur, Sukamulia, Suralaga, Selong, Labuhan Haji, sebagian Aikmel, Wanasaba dan sebagian Kecamatan Sembalun, dengan luas 38.423 Ha (23,93%) dari seluruh luas Kabupaten Lombok Timur. Kecamatan Keruak dan Jerowaru mempunyai luas Grumosol 18.462 Ha (11,50%), sedagkan Kecamatan Sukamulia dan Suralaga hanya 23 Ha. Seperti daerah lainnya di Indonesia, Kabupaten Lombok Timur juga beriklim tropis yang ditandai dengan dua musim yaitu musim panas dan musim penghujan. Curah hujan rata-rata sebesar 1882 mm/tahun dengan jumlah hari hujan perbulan 15 hari. Adapun Kecamatan yang basah pada musim penghujan adalah Kecamatan Aikmel, Suela, Sembalun, Masbagik Pringgasela, Montong Gading. Sedangkan daerah kering adalah Kecamatan Keruak dan Jerowaru dengan curah hujan rata-rata 1.080 mm/tahun.
Wilayah Kabupaten Lombok Timur dilalui oleh banyak aliran sungai dan anak sungai, akan tetapi tidak semua sungai berair sepanjang tahun. Danau hanya satu di daerah ini yaitu danau Segara Anak yang luasnya kira-kira 30 km dengan kedalaman 200 meter.
Karakteristik geografis tersebut di atas menggambarkan situasi umum Sumber Daya Alam (SDA) yang tersedia antara lain berupa sejumlah potensi di bidang pertanian, perkebunan, perikanan dan juga kehutanan. Selain itu potensi pariwisata didukung oleh objek-objek wisata alam (pegunungan dan pantai).


Kependudukan dan Mata Pencaharian
Jumlah penduduk Kabupaten Lombok Timur selama lima tahun terakhir telah mengalami peningkatan dimana pada tahun 2003 tercatat 1.030.137 jiwa yang terdiri atas laki-laki 469.891 jiwa (47,00 %) dan perempuan 542.962 jiwa (53,00 %) dan pada tahun 2007 meningkat menjadi 1.067.673 jiwa yang terdiri atas 486.645 jiwa (45,63%) laki-laki dan 581.028 jiwa (54,37%).
Dengan demikian selama periode 2003 – 2007 tersebut penduduk di Kabupaten Lombok Timur telah mengalami peningkatan dengan laju pertumbuhan penduduk rata-rata 1,3 % pertahun.
Sementara itu perkembangan tingkat kepadatan penduduk juga mengalami perubahan dimana pada tahun 2003 tercatat 642 jiwa/km2 dan pada tahun 2007 meningkat menjadi 665 jiwa/km2. Hal ini berarti ketersediaan ruang bagi penduduk di Kabupaten Lombok Timur semakin terbatas.
Laju Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Lombok Timur Tahun 2003-2007

No Tahun Jumlah Penduduk Laju Pertumbuhan
(%)
Laki-laki Perempuan
1 2003 469.891 542.962
2 2004 472.662 550.179 0,98
3 2005 474.714 558.955 1,06
4 2006 480.791 572.556 1,90
5 2007 486.645 581.028 1,36
Sumber: BPS Lombok Timur (2007)

Berdasarkan kelompok umurnya diketahui bahwa penduduk di Kabupaten Lombok Timur sebagian besar (63,50 %) tergolong penduduk usia produktif ( 15 – 64 tahun) selebihnya tergolong sebagai penduduk bukan usia produktif yang terdiri atas 31,40 % penduduk anak-anak (0-14 tahun) dan 5,10 % penduduk lansia (≥ 65 tahun).
Hasil survey sosial ekonomi Daerah (SUSEDA) tahun 2007 dengan basis penduduk usia 15 tahun keatas memperlihatkan bahwa jumlah penduduk usia kerja di Kabupaten Lombok Timur tercatat 740.858 orang (69,39%) dari total penduduk yang ada. Dari jumlah tersebut yang tergolong sebagai angkatan kerja adalah 67,39 persen dengan proporsi 65,97 persen sebagai penduduk yang bekerja dan 3,42 persen sebagai penduduk yang mencari pekerjaan. Sedangkan yang bukan angkatan kerja tercatat 30,61 persen yang meliputi penduduk yang sedang sekolah 5,27 persen, mengurus rumah tangga 20,17 persen dan lainnya 5,17 persen.
Mata pencaharian penduduk di Kabupaten Lombok Timur sebagian besar dari sektor pertanian (59,55 %), selebihnya dari sektor perdagangan, hotel , restauran 11,95 %; jasa-jasa 9,14 %; industri 8,83 % dan lain-lain 10,53 %. Keadaan ini juga diperlihatkan dari pola penggunaan lahan yang ada, yaitu permukiman 5,01 %; pertanian (sawah, lahan kering, kebun, perkebunan) 48 %; hutan 34 %; tanah kosong (tanduns, kritis) 1 %; padang (alang, rumput dan semak) 9 %; perairan 0,6 %; pertambangan 0,2 % dan lain-lain penggunaan 5 %.








2.3. Tentang Gili Lampu



Gili Lampu merupakan sebutan beken daerah wisata yang ada di Pulau Lombok, yang merupakan sebuah daerah pantai wisata. Gili Lampu ini tepatnya berada di desa Sambelia Kecamatan Sambelia Kabupaten Lombok Timur, daerah ini memiliki curah hujan yang sedikit sehingga suhu di daerah ini lumayan tinggi.

Gili Lampu ini dulunya hanya dijadikan sebagai tempat untuk menangkap ikan bagi para nelayan yang ada di daerah sekitar, lokasi ini memiliki hasil tangkapan ikan yang terbilang banyak dan di lokasi ini juga terdapat pertambakan mutiara. Seiring berjalannya waktu membuat daerah ini yang awalnya didatangi hanya untuk membeli hasil tangkapan ikannya yang kemudian dijadikan sebagai tempat berlibur karena pantai di kawasan Gili Lampu ini tidak kalah indahnya dengan pantai yang ada di tempat lain, setelah itu wilayah ini tidak hanya di kenal sebagai tempat jual beli hasil tangkapan ikan dan pertambakan mutiara namun di kenal juga sebagai tempat berlibur yang dari hari kehari jumlah pengunjung semakin meningkat. Melihat situasi ini PEMDA setempat tidak tinggal diam menanggapi hal ini, karena makin hari jumlah pengunjung makin bertambah membuat PEMDA setempat menjadikan wilayah ini sebagai salah satu daerah wisata yang ada di Lombok Timur.

Selain sebagai tempat wisata daerah ini juga dijadikan sebagai sumber penghasilan masyarakat setempat karena sebagian besar penduduk setempat berprofesi sebagai nelayan dan ada juga yang profesinya sebagai pencari kayu bakar. Setelah daerah ini dijadikan sebagai salah satu daerah wisata di Lombok Timur, sarana untuk para pengunjung sudah mulai didirikan, seperti rumah makan, rumah menginap sederhana, areal parker yang memadai dan tempat peribadatan.















BAB III. METODE OBSERVASI
3.1. Teknik Pengambilan Data
Adapun teknik pengambilan datanya adalah :
a. Dengan survey langsung ke lokasi melalui bantuan teman yang disana (Lombok).
b. Dengan melakukan browsing dari internet.
c. Dengan mengambil dokumentasi dilokasi.

3.2. Langkah Kerja

Mengidentifikasi masalah

Merumuskan masalah

Melakukan observasi kelokasi

Melakukan wawancara dengan masyarakat disekitar lokasi

Mengambil dokumentasi dilokasi

Melakukan kajian literature

Membuat kesimpulan




BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Tempat dan Karakteristik Lingkungan didaerah Gili Lampu
Di daerah Gili Lampu ini curah hujannya sedikit dengan suhu yang lumayan tinggi sehingga tanahnya agak sedikit tandus. Masyarakat sekitar memiliki banyak lahan yang seharusnya dimanfaatkan untuk berladang, namun karena masyarakat kekurangan sumber air untuk mengairi lading mereka membuat masyarakat sekitar enggan untuk menggarap tanahnya yang kemudian lahannya itu dibiarkan begitu saja.


4.2. Potensi Kawasan
Kawasan ini merupakan daerah wisata yang ramai akan pengunjung dan daerah ini dijadikan sebagai sumber pendapatan bagi PEMDA setempat, selain itu kawasan ini juga dijadikan sebagai sumber pendapatan bagi penduduk sekitar karena sebagian besar penduduk di sekitar kawasan berprofesi sebagai nelayan. Kawasan ini memiliki hasil tangkapan ikan yang terbilang banyak dan sangat menguntungkan bagi para nelayan, kemudian di kawasan ini juga terdapat penambakan mutiara oleh para nelayan.

4.3. Masyarakat Disekitar Kawasan
Masyarakat yang ada di sekitar kawasan sebagian besar penganut agama islam, sebagian besar mata pencaharian masyarakat sekitar adalah sebagai nelayan, sebagai pedagang dan ada juga yang profesinya sebagai pencari kayu bakar untuk di jual. Jumlah penduduk yang ada di sekitar kawasan masih terbilang sedikit, ini terlihat dengan adanya jumlah perumahan yang terlihat masih jarang.

4.4. Dampak Kegiatan Pariwisata Terhadap Ekonomi
1) Dengan dijadikannya daerah ini sebagai salah satu daerah wisata di Lombok Timur menjadikan penghasilan PEMDA setempat meningkat.
2) Dengan adanya daerah wisata ini, tidak hanya pendapatan PEMDA saja yang meningkat tetapi pendapatan masyarakat setempat juga meningkat. Masyarakat yang berprofesi sebagai pedagang khususnya pedagang kaki lima yang ada di sekitar kawasan barang dagangannya semakin laris, kemudian dari masyarakat yang dulunya berprofesi sebagai nelayan dan pencari kayu bakar kini beralih profesi sebagai pelayan rumah makan yang ada di daerah lokasi.

4.5. Dampak Kegiatan Pariwisata Terhadap Sosial
1) Terjadinya akuturasi budaya lokal dengan budaya asing. Daerah wisata ini memiliki jumlah pengunjung yang tidak sedikit baik wisatawan local maupun wisatawan asing, dengan adanya wistawan asing ini membuat terjadinya akuturasi budaya, misalnya dari yang awalnya masyarakat sekitar menggunakan sarung sebagai pakaian sehari-hari mereka kini sudah menggunakan pakaian layaknya para turis.
2) Merosotnya nilai-nilai kegotongroyongan masyarakat sekitar. Dengan adanya kegiatan pariwisata ini membuat penduduk menjadi egois sehingga nilai-nilai kekeluargaan antara penduduk sekitar menjadi berkurang.
3) Dengan adanya kegiatan pariwisata ini penduduk yang ada disekitar kawasan merasa terganggu dengan adanya sampah yang berserakan di sekitar halaman mereka.

4.6. Dampak Kegiatan Pariwisata Terhadap Ekologi
1) Dengan adanya kegiatan pariwisata ini membuat lingkungan di sekitar kawasan menjadi tercemar dengan adanya sampah yang berserakan dimana-mana, pemandangan di sekitar pantai menjadi kurang enak di lihat.
2) Perluasan area parkir untuk memenuhi kebutuhan akan keselamatan para pengunjung membuat pepohonan di sekitar kawasan harus di tebang, dikhawatirkan tumbuhan langka yang ada di sana akan ikut tertebang.

4.7. Dampak Kegiatan Pariwisata Terhadap pendidikan
• Dengan adanya kegiatan pariwisata ini menjadikan pendapatan masyarakat setempat menjadi meningkat sehingga masyarakat sekitar tidak akan kesulitan lagi memikirkan biaya untuk pendidikan anak-anak mereka sampai ke jenjang perguruan tinggi.










BAB V. PENUTUP

1.1. Kesimpulan
Dari hasil dan pembahasan di atas dapat d iambi beberapa kesimpulan, diantaranya adalah :
1) Kegiatan pariwisata ini memberikan pengaruh terhadap lingkungan sekitar baik itu pengaruh positif maupun pengaruh negative.
2) Kegiatan pariwisata ini membuat pendapatan PEMDA dan masyarakat setempat meningkat sehingga daerah wisata ini perlu di jaga kelestarian dan keindahannya untuk lebih menarik para wisatawan khususnya para wisatawan asing.
3) Kegiatan pariwisata ini juga menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan sekitar khususnya masalah sampah. Namun masalah ini bias dikurangi/diatasi dengan membuat peraturan dari PEMDA setempat untuk tidak membuang sampah sembarangan dan peraturan ini harus bersifat keras, akan diberikan sanksi bagi para pengunjung yang melanggar peraturan ini.

1.2. Saran
Beberapa saran yang dapat disampaikan oleh penulis, diantaranya :
1) Untuk lebih terjaganya kegiatan pariwisata di Giliu Lampu ini khususnya mengenai masalah sampah, PEMDA setempat harus membuat peraturan tegas bagi para pengunjung yang membuang sampah tidak pada tempatnya.
2) Perlunya di buat suatu badan kebersihan pantai.
3) Mengadakan sosialisasi kepada masyarakat setempat akan pentingnya kebersihan bagi ekologi di sekitar daerah kawasan.
LAMPIRAN

Jalan masuk menuju Gili Lampu


Suasana pantai dengan para pengunjungnya.
Perahu yang disewakan untuk para pengunjung pantai.

Nelayan sedang memancing ikan yang merupakan salah satu mata pencaharian pokok masyarakat setempat.

Kegiatan para pedagang di sekitar kawasan pantai. Areal pertambakan mutiara.

Areal parkir yang ada di sekitar kawasan.
Kegiatan para pedagang di pinggiran pantai.
Rumah makan tampak dari depan yang ada di sekitar kawasan pantai.
Kegiatan para nelayan di sekitar pantai.

Sampah dari kegiatan pariwisata
Rumah penampungan hasil tambak mutiara sementara.

Rumah penampungan hasil tambak mutiara sementara. Tampak dari dekat.
Suasana rumah penduduk yang ada di sekitar pantai.













DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Budaya Lombok. Di akses dari : http://dunialombok.com/budaya_lombok.htm

Anonim. 2008. Profil daerah Nusa tenggara barat. Di akases dari : http://karumbutribun.blogspot.com/2009/03/profil-daerah-nusa-tenggara-barat.html

http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0210/21/daerah/meng25.htm
Anonim. 2007. Sekitar Tentang Lombok. Di akses dari : http://amaqeza.blogspot.com/2008/01/sekilas-tentang-lombok.html

Wikipedia. 2009. Kabupaten Lombok timur. Di akses dari : http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Lombok_Timur

Anonim. 2009. Lombok Timur. Di akses dari : http://www.lombokgilis.com/lombok-timur.htm

Anonym. 2009. Lombok Timur. Di akses dari : http://Www.Lomboktimurkab.Go.Id/?Pilih=Hal&Id=44